Minggu, 03 Juni 2012

Dikusi Panel Grand Design Edukasi Asuransi Indonesia – Pusdiklat ACA Ciloto, 3 April 2012

Industri Asuransi dan Kementrian Keuangan pada tanggal 3 April lalu melakukan Diskusi Panel untuk melengkapi Draft Grand Design Edukasi Asuransi Indonesia (GDEAI). Pada pagi hingga sore hari, para peserta dengan serius berusaha menyimak pemaparan ketua Tim Kerja GDEAI – DAI, Dr. A. Anton Lie tentang Draft GDEAI dan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, dan mendengarkan masukan dari para Sosiolog Dr. Johanes Fredrik Warouw dari UI dan Dr. Widjajanti dari LIPI berkenaan dengan draft GDEAI tersebut. Tanya-jawab dengan para sosiolog berlangsung sangat dinamis, sehingga untuk memuaskan para peserta yang ingin tahu banyak tentang pandangan masyarakat terhadap asuransi, Bp. Freddy Pieloor selaku moderator meminta izin Ketua DAI Bp. Kornelius Simanjuntak untuk menambah waktu diskusi selama 1 jam. Para peserta yang diundang adalah para pakar – pakar dibidang asuransi yang telah terbukti komit dalam edukasi asuransi kepada masyarakat, misalnya para direksi dan management perusahaan asuransi yang sering kali menjadi pembicara dalam kuliah umum atau pendidikan dosen dalam program Insurance Goes To Campus (IGTC), para ketua dan pengurus inti Insurance Day, seluruh ketua Asosiasi perasuransian serta para ketua institusi pendidikan Asuransi.
Dr. Johanes Fredrik Warouw, mengatakan bahwa model analisa yang dapat dipakai untuk GDEAI adalah model analisa “Black Box”, Input – Box – Output – Outcome”. Dari sudut pandang sosiologis, “Asosiasi Asuransi Indonesia” dapat dilihat sebagai suatu komunitas yang memiliki VISI dan MISI yang berkecimpung dibidang Asuransi (seharusnya berthemakan) dengan VISI,
“Mengasuransikan Masyarakat, Memasyarakatkan Asuransi” dengan MISI “Asuransi Mensejahterakan Masyarakat, Masyarakat Mensejahterakan Asuransi”. Dr. J.F.Warouw memandang bahwa VISI dan MISI ini dapat dijadikan sebagai paradigma dasar perasuransian Indonesia kedepan. Jadi ada perubahan paradigmatic asuransi, yang semulanya hanya bertujuan sebagai suatu kegiatan usaha dalam mencari keuntungan (Paradigma Mencari Keuntungan) dengan menjaring sebanyak-banyaknya konsumen se mata-mata, dan melalui “ Gran Desain Edukasi Asuransi” perlu memunculkan suatu Paradigma baru asuransi Indonesia, yakni Paradigma Coorporate Social Responsibility dengan melakukan “Social Investment
Banyak masukan berarti berdasarkan pengalaman langsung dari para pakar yang ada dalam masing-masing grup diskusi, misalnya Grup “Asuransi Masa Depan” yang terdiri dari Frans Y Sahusilawane, Kornelius Simanjuntak, Petrus Siregar, Robby Loho, Widjayanti, Nurham, Brahma Setyowibowo membahas tentang bagaimana cara edukasi asuransi kepada kelompok masyarakat lembaga swadaya masyarakat, dilihat dari kategori, yaitu : Masyarakat belum mengenal dan belum mengerti asuransi, Masyarakat sudah mengenal namun belum mengerti asuransi, dan Masyarakat sudah mengenal dan sudah mengerti Asuransi.. Sedangkan Grup “Subrogasi” yang terdiri dari Wunwun, Anton Lie, Julian Noor, Basuki Purwadi, Jati Wijayanti, J.F. Warrouw, Asrori, Hotbonar Sinaga, membahas tentang masyarakat Lembaga Legislatif dan Partai Politik, juga dilihat dari tiga kategori diatas. Kepala Biro Perasuransian BAPEPAM LK Kementrian Keuangan “Isa Rachmatarwata” dan 2 kepala bagiannya “ Basuki dan Yatty Nurhayati” beserta 7 orang staff Kementrian Keuangan ikut aktif dalam grup diskusi tersebut. Masing-masing grup mengusulkan berbagai cara / kegiatan yang tepat untuk melakukan edukasi asuransi kepada segmen masyarakat tertentu (sesuai tugas masing-masing grup diskusi), sehingga diharapkan akan mempermudah Tim Kerja dalam menuangkan dan melakukan finalisasi draft GDEAI.
Dengan didukung oleh tempat yang memadai, udara yang sejuk dan makanan kecil yang nikmat dan selalu tersedia di Pusdiklat ACA Ciloto pada hari itu, para peserta Diskusi Panel yang terbagi dalam 6 kelompok diskusi yang dipandu oleh ibu Sri Hadiah Watie, hingga pikul 18.00 tidak merasa jenuh, walaupun waktunya telah lewat 2 jam dari yang direncanakan.
Disela-sela Diskusi Panel GDEAI – DAI, Pak Isa Rachmatarwata (Kepala Biro Perasuransian BAPEPAM LK) didampingi oleh Kornelius Simanjuntak (Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dan Anton Lie (Ketua Komisi Pendidikan DAI) meresmikan Web DAI. Web dengan alamat www.dai.or.id yang berisi semua informasi tentang asuransi dan e’learning dibidang asuransi ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat melalui informasi technologi jarak jauh. Diharapkan dengan adanya Web ini masyarakat baik dalam industri asuransi maupun masyarakat umum dapat lebih mengenal dan mencintai bidang asuransi. Pada saat itu juga Sdr. Arif (mahasiswa magang beasiswa STIMRA) yang dipercaya membuat Web ini, langsung diangkat menjadi karyawan tetap DAI oleh ketua DAI Koornelius Simanjuntak. Daniel Gunawan selaku Koordinator Web yang membimbing Sdr. Arif mengatakan bahwa Web ini adalah realisasi dari salah satu program dalam Insurance Goes To Campus (IGTC) yaitu program e-learning.
Rapat Tim GDEAI-Kemenkeu
Pada malam harinya di tempat yang sama dilangsungkan rapat Tim Kerja GDEAI – Kementrian Keuangan (sering disebut Tim 7) dengan pemerintah (Biro Perasuransian BAPEPAM LK) dan seluruh ketua asosiasi perasuransian dibawah koordinasi Dewan Asuransi Indonesia (DAI). Tim ini sering disebut Tim 7 GDEAI – Kemenkeu, karena selain pemerintah (Kepala Biro Perasuransian BAPEPAM LK Kementrian Keuangan) yang menunjuk langsung 7 orang wakil-wakil asosiasi perasuransian berdasarkan rekomendasi dari masing-masing ketua asosiasi asuransi, juga pemerintah sangat komit untuk ikut aktif dalam setiap rapat tim kerja, bahkan selalu menyediakan tempat rapat di Gedung Kementrian Keuangan.
Pada malam hari itu, Ketua Tim 7 GDEAI, Dr. A. Anton Lie, mempresentasikan draft SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang hampir selesai untuk bagian underwriting. Anton mengatakan bahwa draft SKKNI sertifikasi profesi Underwriter dibidang asuransi Umum yang baru selesai disusun ini adalah hanya salah satu dari berbagai bidang kompetensi yang harus dibuat oleh masing-masing asosiasi asuransi. Bidang profesi lain yang menjadi prioritas di bidang asuransi yang sangat mencirikan asuransi dibanding bidang lainnya adalah bidang claim dan reasuransi. Dalam presentasi, Anton menguraikan tugas Tim GDEAI – Kemenkeu (Tim 7) adalah membuat Gran Desain Edukasi Asuransi kepada masyarakat dalam industri asuransi seperti karyawan dan agen asuransi. Tim ini tidak membuat mata kuliah atau pelajaran apa yang harus disediakan oleh institusi-institusi pendidikan asuransi, melainkan tim ini mendesain kompetensi apa yang harus dimiliki oleh setiap profesi inti didalam industri asuransi.
Untuk itu maka Tim bersama pemerintah memandang perlu membuat suatu standart kompetensi yang diakui nasional dan internasional. Sertifikasi kompetensi harus dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi yang disahkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau dikenal BNSP.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah pertama mempersiapkan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), kedua menyiapkan Standart Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). LSP yang dibentuk belum dapat diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) kalau belum menyelesaikan SKKNI yang diakui oleh Kementrian Tenaga Kerja. Pada kesempatan itu selain menjelaskan bagaimana cara membuat LSP dan SKKNI, Anton juga menekankan bahwa masing-masing asosiasi perasuransian harus terlibat dalam menyusun SKKNI.
Bp. Isa Rachmatarwata selaku Kepala Biro Perasuransian BAPEPAM LK yang terlibat langsung dalam pembuatan Gran Disain Tim 7, memberikan pengarahan kepada seluruh ketua asosiasi serta Dewan Asuransi Indonesia untuk segera menunjuk tim di masing-masing asosiasinya untuk membuat SKKNI di dalam bidang asuransi, tidak hanya di bagian underwriting namun juga di bagian Reasuransi dan Claim secara khusus. Draft standar kompetensi yang sudah ditetapkan di dalam Asuransi Umum dapat digunakan sebagai contoh dan secara bersama-sama akan disusun untuk bidang lain seperti Asuransi Jiwa, Sosial, Broker, Adjuster, Aktuari dan bidang-bidang lainnya. Diharapkan SKKNI dapat diselesaikan pada akhir Juni 2012.
Tanpa terasa, rapat telah berlangsung hingga pukul 22.30 dan seluruh peserta yang hadir tampak menunjukkan optimisme yang tinggi untuk mencapai cita-cita bersama dalam meningkatkan Industri Asuransi Indonesia. Sebagaimana biasa, panitia Pusdiklat ACA Ciloto, menyediakan jagung dan ubi rebus sebagai tanda ucapan selamat jalan bagi peserta rapat.

Sumber: Website DAI

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Terimakasih telah berkunjung. Silakan meninggalkan komentar, bertanya, atau menambahkan materi yang telah saya sediakan.