Senin, 29 Oktober 2012

Tulisan tentang asuransi laku? Sekalipun tidak, aku ingin terus menulis



Tulisan tentang asuransi laku? Menurutku sih tidak terlalu. Media online seperti Bisnis.com, Kontan.co.id, dan MediaIndonesia.com yang kadang memberitakan tentang asuransi menunjukkan jumlah hit yang tidak terlalu banyak. Saya sendiri mengamati kontan.co.id sering heran karena setiap kali muncul artikel yang terkait dengan asuransi, rata-rata pembacanya hanya berkisar 400-500 orang dan tidak lebih.

Kenyataannya, tulisan tentang keuangan praktis, situasi moneter, dan tulisan yang "asing" dalam kehidupan sehari-hari juga mengalami nasib yang sama, yaitu memiliki pembaca yang jumlahnya stabil. Meski demikian, jumlah pembacanya masih lebih besar daripada tulisan tentang asuransi.

Kalau begitu kenapa aku membuat website dan tulisan-tulisan tentang asuransi? Kalau kita ketikkan kata "asuransi" di google search engine, maka hanya akan keluar 37,600,000 kata. Berbeda dengan bank, akan keluar 2,120,000,000 kata hasil pencarian. Itu semua hanya analogi, betapa masih terbuka luas menjadi seorang yang ahli dan profesional dalam asuransi. Aku ingin menjadi seorang profesional.

Dengan menulis aku harus belajar, dan dengan demikian, berlahan-lahan aku menjadi apa yang aku cita-citakan itu. Tanpa harus membuat suatu pernyataan bahwa aku mencintai bidang asuransi, tapi inilah caraku untuk menggeluti bidangku ini. Aku tidak ingin menjadi staff biasa. Aku ingin menjadi seorang ahli, aku ingin menjadi satu di antara beberapa kecil orang yang kini bisa dibilang ahli asuransi.

Kalau boleh jujur, dengan aturan yang ada sekarang, seorang anak lulusan SMA dengan mudah akan mendapat gelar AAAIK ataupun AAIK kalau dia belajar lalu lulus ujian. Saya yakin, seorang yang memiliki gelar AAIK dan banyak gelar asuransi lain tetap akan masih kalah dengan kehebatan seorang Bapak Ignatius Rusman (seorang pengajar MT di ACA) yang masih bergelar AAAIK. Mengapa? Untuk mendapatkan gelar ahli asuransi, cukup belajar kurang lebih sebulan, lalu ujian. Jila lulus, dapatlah seseorang meletakkan gelar itu di samping namanya. Pak Ius lebih suka menulis dan  memperdalam sendiri tentang asuransi daripada berambisi untuk mendapatkan gelar yang semakin panjang di belakang nama beliau.

Saya sendiri lebih bangga dengan gelar SS dan MM di belakang nama saya, tapi saya juga ingin memenuhi syarat formal untuk diakui sebagai ahli asuransi, yaitu kedua gelar di atas. Gelar hanyalah jalan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Tapi tulisan adalah jalan untuk memperoleh pengakuan dari saya sendiri, bahwa saya telah belajar.


Sekedar sharing sebelum belajar,
 Afrianto Budi P, SS MM 
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Terimakasih telah berkunjung. Silakan meninggalkan komentar, bertanya, atau menambahkan materi yang telah saya sediakan.