Kamis, 22 November 2012



Tadi siang saya survey penutupan asuransi untuk mobil Avanza G 1.5 MT di daerah Kemanggisan, Jakarta. Tiba di rumah calon tertanggung, teman saya dan saya disuguhi teh manis sambil ngobrol-ngobrol tentang asuransi. Beberapa saat kemudian ada tetangga tertanggung datang dan diberitahu oleh pemilik rumah bahwa kami adalah petugas asuransi. "Asuransi AAA ya mas? Atau BBB?" Teman saya menjelaskan kalau kami dari CCC, sebuah asuransi kerugian terbesar di Indonesia.

Pengalaman hari ini mengantarku kembali untuk berpikir tentang brand image, apakah dari pertanyaan tersebut kita bisa bilang kalau brand image perusahaanku masih rendah? Bisa iya, bisa tidak.

Keller (2003) menyebutkan bahwa brand image adalah “Anggapan tentang merek yang direfleksikan konsumen yang berpegang pada ingatan konsumen.” Sedangkan Kotler dalam Armstrong (2001: 225) menyebutkan bahwa brand image adalah “seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek tertentu.” Dari pengertian tersebut, jelas bahwa sebesar apapun aset perusahaan, masyarakat tidak terlalu peduli kalau merek bahkan nama perusahaanpun belum pernah masuk dalam ingatan konsumen. Bagaimana masyarakat yakin dan percaya atas produk sebuah perusahaan asuransi kalau usaha untuk memperlihatkan brand image tidak optimal?

Brand image ini dibentuk oleh setidaknya tiga citra, yaitu citra pembuat, citra pemakai, dan citra produk.  Citra pembuat (Corporate Image) yaitu seperangkat asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk dan jasa. Citra pemakai (User Image) dapat didefinisikan sebagai sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan barang atau jasa, meliputi pemakai itu sendiri, gaya hidup atau kepribadian dan status sosial. Sedangkan citra produk (Product Image) yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk, yang meliputi atribut produk tersebut, manfaat bagi konsumen, penggunaannya, serta jaminan yang ditawarkan.

 Perusahaan asuransi yang sudah masuk dalam zona nyaman dalam segi aset tentu tidak boleh duduk diam menanti "pembeli" polis. Aset besar menjadi modal untuk menciptakan brand image, di mana masyarakat tahu akan keberadaan perusahaan, akan merek unggulan perusahaan, dan disadarkan agar masyarakat merasa membutuhkan itu, lalu membeli polis asuransi.

I love my company insurance. What can I do for it?
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Terimakasih telah berkunjung. Silakan meninggalkan komentar, bertanya, atau menambahkan materi yang telah saya sediakan.