March 2019 ~ Akademi Asuransi

Mengenal Model-model Asuransi Kredit P2P Lending


Rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mewajibkan perusahaan teknologi finansial peer-to-peer ( fintech P2P) lending bekerja sama dengan asuransi sebagai syarat mendapatkan perizinan sudah mulai digaungkan akhir tahun 2018. Tentunya ini peluang bagus bagi perusahaan asuransi umum untuk mempersiapkan regulasi ini. Meski demikian, apakah asuransi ini memang dibutuhkan?

Jawabannya antara iya dan tidak. Perusahaan P2P Lending sendiri memperhitungkan Non Performance Loan (NPL) Ratio sebagai dasar pengenaan rate yang dibebankan kepada nasabah. Di sisi lain, Perusahaan Asuransi tidak mau rugi. Mereka akan mengenakan tarif premi yang tidak hanya lebih tinggi dari NPL Ratio, tetapi juga menerapkan review clause. 

Apa itu review clause? Review Clause adalah jurus sakti Asuransi untuk mereview ulang tarif premi yang dikenakan kepada perusahaan P2P Lending jika NPL nya melebihi NPL yang diinfokan di awal. Misalnya, jika perusahaan P2P Lending menginformasikan di awal bahwa NPL nya 2%, maka perusahaan asuransi akan menerapkan premi di angka 3% misalnya. Jika NPL nya menjadi 4% saja, maka perusahaan asuransi akan segera menaikan premium.

Model-model asuransi kredit


Ada dua jenis model asuransi kredit, yaitu Administration Service Only (ASO) dan Risk Sharing Partnership.

Administration Service Only (ASO)
Dari istilahnya, asuransi hanya berperan sebagai administrator. Di sini tampaknya tidak ada pengalihan risiko. Kenapa? Karena factor rating utamanya adalah proyeksi NPL ditambah dengan "biaya administrasi" bagi asuransi. Risiko perusahaan P2P Lending berupa nominal NPL diambil oleh Perusahaan Asuransi dengan membayarkan premi deposit yang jumlahnya senilai NPL. Perusahaan asuransi akan membayarkan ke perusahaan P2P Lending jika terjadi gagal bayar.
Rasa saya, perusahaan asuransi menerapkan ASO karena mereka tidak yakin dengan nilai NPL perusahaan P2P Lending tersebut. Mereka pun membutuhkan data statistik di tahun pertama untuk berani masuk pada model yang kedua, yaitu Risk Sharing Partnership.

Risk Sharing Partnership
Model yang kedua ini dibuat jika perusahaan asuransi sudah mendapatkan data statistik aktual NPL dari perusahaan P2P Lending yang bersangkutan. Bagaimana cara menghitung premi? Ada 3 variable dari model ini, yaitu:
  1. NPL : non performance loan
  2. EIL : estimation increasing loss
  3. CF : commission fee
Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:

       NPL      
  (EIL – CF)

Contoh:

       4%        = 6.7%
0.8% - 0.2%


So menurut Anda, apakah asuransi kredit benar-benar dibutuhkan oleh perusahaan P2P Lending? Jika menerapkan ASO dan menerapkan premi jauh di atas NPL, apakah perusahaan asuransi akan memiliki produk asuransi yang nyaris tanpa risiko?


AAN
Share:

OJK Usul P2P Lending Pakai Layanan Asuransi, Ini Alasannya



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deputi Direktur Pengaturan Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menganjurkan layanan pinjaman online atau peer to peer (P2P) lending harus disertai asuransi.

Ada musabab dibalik peran asuransi, yakni mengatasi penunggakan pengembalian dari peminjam sehingga tidak terjadi penarikan tak etis.

"Jadi kalau ada penunggukan asuransi yang bayar. Ini menyusul banyaknya laporan penarikan dana paksa (oleh debt collector)," katanya saat diskusi dengan asosiasi dan pelaku bisnis fintech kemarin, (21/2/2019).

Hal yang sama kerap disampaikan Kepala Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso bahwa dalam melakukan transaksi kredit melalui fintech peer to peer (P2P) lending masyarakat harus berhati-hati

Wimboh mengatakan masyarakat harus dapat membedakan antara fintech lending yang ilegal dengan yang ilegal.

Pasalnya, minimnya pengetahuan mengenai legalitas pinjaman online ini telah membuat semakin menjamurnya korban-korban penagihan tak beretika yang dikabarkan dilakukan oleh oknum pinjaman online ilegal.

"Kalau fintech itu bedakan antara yang terdaftar atau tidak terdaftar. Kalau yang terdaftar kalau ada nasabah yang mempunyai pinjaman kita bisa tahu siapa fintech yang memberikan pinjaman," ujar Wimboh

Dari sisi pelaku bisnis yang telah terdaftar di OJK, bahwa P2P lending saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

"Fintech P2P Lending hadir dengan visi untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari masalah finansial. Kami berharap dapat membantu para pelaku bisnis kecil berkembang melalui akses pendanaan produktif yang bisa didapatkan dengan cara mudah dan cepat," urai Victor Timothy, Co-Founder & Business Development Director Taralite.

Selain itu Andrisyah Tauladan, Direktur Asetku, juga mengungkapkan dukungannya terhadap tumbuhnya industri fintech, khususnya sektor fintech p2p lending, di Indonesia karena dapat memberikan dampak yang begitu besar bagi masyarakat Indonesia.

"Perusahaan kami berkomitmen untuk mendukung terciptanya kemudahan akses pendanaan konsumtif bagi jutaan masyarakat di Indonesia. Pendanaan yang kami dukung dan fasilitasi melalui kerjasama dengan berbagai pihak dapat membantu para konsumen melakukan pembelian barang dan kebutuhan lainnya dengan sangat mudah dan praktis.

"Kami melihat bahwa kedepannya sektor fintech p2p lending akan semakin berkembang di Indonesia karena kebutuhan yang memang tinggi dari masyarakat terhadap sumber pendanaan alternatif."


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul OJK Usul P2P Lending Pakai Layanan Asuransi, Ini Alasannya, http://www.tribunnews.com/bisnis/2019/02/22/ojk-usul-p2p-lending-pakai-layanan-asuransi-ini-alasannya.
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
Share:

Simasnet Sambut Baik Kewajiban Fintech P2P Lending Bekerja Sama Asuransi



Bisnis.com, JAKARTA – PT Asuransi Simas Insurtech (Simasnet) menyambut baik rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mewajibkan perusahaan teknologi finansial peer-to-peer ( fintech P2P) lending bekerja sama dengan asuransi sebagai syarat mendapatkan perizinan.

Hal tersebut disampaikan CEO Asuransi Simas Insurtech Teguh Aria Djana kepada Bisnis, Senin (18/03/2019). Dia menjelaskan, dengan adanya kebijakan baru tersebut, Simasnet siap bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan fintech.

Menurut Teguh, saat ini perusahaannya telah bekerja sama dengan lebih dari 20 perusahaan sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko. Berlakunya kebijakan baru menurut dia mendorong Simasnet untuk aktif melakukan diskusi dengan perusahaan-perusahaan fintech lain untuk meningkatkan kerja sama.

"Sejak adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016 khususnya pada Bab V Pasal 21 mengenai keharusan dilakukannya mitigasi risiko, kami mulai berinisiatif untuk mengembangkan produk asuransi kredit khusus untuk fintech lending," ujar Teguh, kepada Bisnis.

Teguh menjelaskan, perusahaannya menentukan nilai penjaminan sesuai regulasi yakni maksimal Rp2 miliar dengan tenor maksimal 24 bulan. Adapun, sebelumnya Simasnet melakukan penambahan modal usaha menjadi Rp250 miliar sebagai salah satu persyaratan untuk memasarkan produk asuransi kredit.

Dia menilai asuransi kredit untuk fintech memiliki peluang pertumbuhan cukup baik pada tahun ini seiring terus bermunculannya P2P lending yang membutuhkan perlindungan asuransi kredit.

Sumber: Bisnis
Share:

Asuransi Jiwa Kredit


Saat ini banyak sekali perusahaan P2P landing yang meminta produk asuransi kredit. Oleh karena itu, kali ini AkademiAsuransi akan menjelaskan satu produk dasar yang biasanya dimiliki oleh perusahaan asuransi jiwa, yaitu Asuransi Jiwa Kredit.

Asuransi Jiwa Kredit (AJK) adalah program asuransi yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap jiwa kreditur sehingga pengembalian kredit sesuai dengan jadwal.

Asuransi Jiwa Kredit Standard
Manfaat : memberikan perlindungan pengembalian / pelunasan sisa kredit (sesuai jadwal), apabila debitur mengalami musibah yang menyebabkan meninggal dunia akibat sakit maupun kecelakaan dalam jangka waktu asuransi masih berlaku.

Nilai Uang Pertanggungan menurun seiring dengan menurunnya besar pinjaman. Biasanya dipergunakan untuk pinjaman dengan cicilan tetap seperti kredit KPR, Mobil dan sejenisnya.

Asuransi Jiwa Kredit Berjangka
Manfaat : memberikan perlindungan pembayaran santunan sebesar pokok kredit / pinjaman awal apabila debitur mengalami musibah yang menyebabkan meninggal dunia akibat sakit maupun kecelakaan dalam jangka waktu asuransi masih berlaku.

Nilai Uang Pertanggungan tetap selama jangka waktu pinjaman. Biasanya dipergunakan untuk pinjaman dengan cicilan bunga seperti kredit usaha kecil/menengah dan sejenisnya.

Asuransi Jiwa Kredit Joint Life
Asuransi Jiwa Kredit yang memberikan perlindungan bersama Debitur Suami dan Isteri sekaligus atas pembayaran santunan sebesar Pokok Kredit/Pinjaman Awal dan atau sebesar Sisa Kredit (sesuai jadwal) apabila salah satu Debitur mengalami musibah yang menyebabkan meninggal dunia akibat sakit maupun kecelakaan dalam jangka waktu asuransi masih berlaku.

Sumber: Equity
Share:

The Massive Opportunity For Insurance Tech In Indonesia

Among major markets, Indonesia is the second-fastest-growing P&C market and the fastest-growing market for life insurance. Here's where insurance tech innovation in Indonesia is happening today and where it's headed next.

Today, Indonesia features one of the most compelling macro backdrops for investment globally with a young, optimistic, and upwardly mobile population of 264M. Consider that:
Half of Indonesia’s population is under the age of 30, with the number of millennials (aged 17-35) in Indonesia currently at 79.5M.

Among major Asian economies, people in Indonesia feel the most optimistic about their opportunity to advance in their careers, develop new skills, and build their finances, according to a LinkedIn study.

By 2050, Indonesia is projected to have the third largest middle class among emerging markets.

Speaking of mobile, smartphone penetration in Indonesia continues to grow with close to half of Indonesia’s population expected to own a smartphone by next year.


Indonesia features the largest ($27B in 2018) and fastest-growing (49% CAGR 2015-2018) internet economy in Southeast Asia, according to a study by Google and Temasek. Recent data from Indonesia’s leading e-commerce player Shopee supports optimistic growth prospects. The platform recorded 63.7M orders, or a daily average of 700,000 orders, in Q3’18, and reached 12M orders on Indonesia’s National Online Shopping Day in December.

The combination of Indonesia’s compelling macro backdrop and fast-growing digital economy is creating a massive opportunity for digital transformation in financial services.

Two that are already seeing lots of activity are payments and lending.
PAYMENTS

The three leading mobile payments players in Indonesia are Go-Jek‘s Go-Pay, Lippo’s OVO (partnered with Grab), and Dana, the joint venture of Ant Financial and Emtek. Competition is already starting to grow fierce, with all three recently expanding and integrating with e-commerce platforms including Bukalapak, JD.id, and Tokopedia.

In its 2018 report, OVO claimed it had facilitated 1B transactions for the year, or a 75X increase since November 2017. Meanwhile, Dana reportedly acquired 1M users in 3.5 months and recently surged to the #1 App Store ranking after a big 11.11 promotion. Another player in the mobile wallet battle is T-Cash, the e-wallet service of Indonesia’s largest mobile operator Telkomsel, which recently opened up its e-wallet to the customers of rivals. T-Cash counts 20M registered users (though just 4M active users).

LENDING

Meanwhile, alternative lending is also seeing strong growth, with P2P fintech platforms distributing $1.4B in loans in 2018 vs. $182M in 2017. The OJK, Indonesia’s financial services regulator, is already starting to clamp down by launching a selective registration process and shutting down unlicensed firms that continue to operate.

While the space is still in the early innings of its evolution, several alternative lending startups in Indonesia have already raised Series B financing, including UangTemanModalkuKredivo, and Investree.

Indonesia’s insurance industry has yet to see the same level of competition or startup investment as payments or lending. This analysis focuses on where insurance innovation in the market is happening today and where it is headed next.
Insurance in Indonesia today

According to data from the OJK, insurance literacy in Indonesia actually fell from 17.9% in 2013 to 15.8% in 2017. Overall insurance penetration in the country of 264M people ranks among the lowest in the world at <2 a="" and="" are="" as="" carry="" channels="" digital="" encouraging="" have="" href="https://finansial.bisnis.com/read/20181019/215/850959/ojk-bebaskan-distribusi-asuransi-lewat-digital" in="" indonesians="" insurance="" nbsp="" of="" policy="" regulators="" such="" the="" use="">publicly voiced
 that “no regulation is needed to regulate insurance marketing through digital means.”

Today, life insurance is the dominant segment in Indonesia and accounts for two-thirds of the sector. Life insurance hit $12.6B in premiums in 2016. Non-life insurance is driven by property insurance and motor insurance, with the two accounting for 54% of the general insurance market. Indonesia is second only to India among the fastest growing P&C markets by premium and the fastest growing market for life premiums, according to Munich Re.

Because banks in Indonesia already have existing customer bases, the primary channel for insurance growth in Indonesia has been bancassurance (insurance companies selling products through partnerships with banks). Life premiums through the bancassurance channel grew 74% in 2016 vs. 6% in traditional agencies, according to Oxford Business Group. Recent M&A deals by foreign insurers, including Zurich’s acquisition of Adira Insurance and FWD Group’s acquisition of Commonwealth Bank of Australia’s Indonesian life insurance unit, have included long-term bank distribution partnerships.

In terms of health insurance, more than 130M Indonesians are registered for the country’s Mandatory Health Insurance Scheme, managed by Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). BPJS covers medical and non-medical benefits but excludes services such as esthetics, orthodontics, infertility treatments, and drug rehabilitation. BPJS has faced some issues, including a growing number of inactive participants and a major deficit.

When it comes to who can sell insurance in Indonesia, boundaries can be opaque. An insurance agent in Indonesia can only represent one insurance company, while brokers can represent more than one carrier. But agents can play in gray areas by offering the services of multiple insurance companies through various means. The rise of online marketing and referral services has added new complexities to the issue as individuals who are neither brokers nor agents use websites and blogs to promote brands.

To date, a number of tech startups operating in the realm of insurance have focused on financial comparison by providing online destinations to buy insurance products from licensed brokers. However, financial comparison startups such as Experian-backed C88 Technologies have largely focused on simpler financial and banking products.
Where insurance tech in Indonesia is headed

Given the country’s existing landscape, here are five themes to watch when it comes to the future of insurance innovation in Indonesia.

THE INFLUENCE OF TECH BUSINESS MODELS FROM CHINA AND THE US

Entrepreneurs appear eager to adopt and tailor different tech-enabled business models to the Indonesian market. Two early examples of this are Sleekr and PasarPolis.

Founded in 2015, Sleekr borrows from Gusto‘s model in the US and offers a combination of software automation tools to small businesses for HR administration, payroll, and business processes. Today, Sleekr works with 10,000 small businesses in Indonesia and charges $1 to $2 per employee per month.

In the future, Sleekr might look to become a distributor of financial services including health insurance. This is similar to how Gusto brokers medical, vision, and dental coverage, but different in the sense that Sleekr would have to sell group health insurance to small businesses that are reluctant to go through the time-consuming BPJS government program.

Meanwhile, PasarPolis borrows from Zhong An’s B2B2C model in China and has partnered with various platforms in the region including Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, and JD.id. As an example, PasarPolis has sold 250,000 microinsurance policies to Go-Jek’s pool of 800,000 drivers. Similar to Zhong An, PasarPolis offers shipping returns insurance and flight delay insurance products through e-commerce partners and claims to do over 1M policies per month out of 100M insurable hits per month. Many of these policies cost $1 or less.

PasarPolis’ current model largely operates around tech services. For example, insurers pay PasarPolis a portion of the fees associated with claims management in exchange for the work they’ve done to streamline processes. This differs substantially from Zhong An’s model, which operates as a licensed insurer.

Two potential challenges are whether PasarPolis will need to change its model to operate as a licensed distributor in the future, and whether it will need to (or is able to) follow Zhong An’s shift from products tailored to the online economy to more traditional insurance offerings. While PasarPolis is seeing substantial growth, there are also limits to its potential scale. Of note, China’s $1T e-commerce GMV market, where Zhong An plays, is 37x larger than Indonesia’s current digital economy. In addition, strategic partners Go-Jek, Tokopedia, and Traveloka are equity owners in PasarPolis, which could create conflicts for future growth prospects (e.g. partnering with rivals).

Over time, more insurance business models from the US and China will come to Indonesia. One possibility is Chinese mutual aid platforms like Shuidihuzhu, which helps patients crowdfund money for medical fees and also distributes traditional health insurance products to its membership of close to 60M.
INNOVATION IN OFFLINE CHANNELS IS A CRITICAL COMPONENT OF DISTRIBUTION
In Indonesia, offline channels are, and will continue to be, of critical importance to onboard customers into digital financial services.

This was made apparent in Grab’s 2017 acquisition of Kudo, an offline-to-online payments startup, for over $100M. Kudo provides a cash payment system and a network of a few hundred thousand agents to onboard unbanked consumers into digital transactions by partnering with firms such as BukaLapak, Lazada, Indosat, and Lion Air.

More recently, PayFazz raised $21M from Tiger Global and DST to utilize its network of over 1M bank agents to act as intermediaries between unbanked consumers and banks. PayFazz agents act as banking touch points and turn cash deposits into PayFazz balances that can be used to pay bills and other expenses.

Innovation in offline channels will also be a critical component for insurance entrepreneurs in Indonesia. Indonesian small businesses, for example, are not yet comfortable with purely online SaaS models and prefer in-person setup. And in spite of the rise of major platforms such as Go-Jek, Traveloka, and Tokopedia, many transactions still happen offline, presenting an opportunity for B2B2C insurance startups to target offline retailers like travel agencies.

Leveraging networks of agents to sell microinsurance policies similar to PayFazz will be another opportunity to lower customer acquisition cost and upsell services. Lastly, some point of sale startups, such as Sequoia Capital-backed Moka, charge just $10 per month, so future bundling opportunities in lending and insurance are also a possibility.
SMALL BUSINESS IS STILL AN UNTAPPED OPPORTUNITY

Traditional insurance brokers in Indonesia typically overlook the country’s 60M small businesses in favor of larger companies, creating an opportunity for startups. Successful startups targeting small businesses in Indonesia need to be creative in mixing outbound offline field sales, paid digital marketing, and partnerships with professional associations, e-commerce platforms (which have aggregated large swaths of small business merchants), and other major ecosystems such as HR/payroll.
PAYMENTS IS A BIG ISSUE, BUT WILL IMPROVE OVER TIME

While digital wallets are growing, payments is still a big issue for insurance startups. In the past, payments on e-commerce marketplaces such as Lazada largely happened via ATM. For SaaS-based startups, bank transfer is the dominant payment method. Over time, consumer-facing startups might pair with e-wallets like Dana. Auto payment is available through regular bank accounts, but requires in-person signing at bank branches. Understanding how insurance startups are solving for this issue will be an area to monitor.

THE ULTIMATE ROLE OF SUPER APPS

Lastly, two of the fastest-moving players in Indonesia that could impact the future of insurance in Indonesia are leading ride-hailing apps Grab and Go-Jek, which have rapidly expanded their reach into financial services, including insurance.

Grab, for example, recently announced a partnership with Zhong An International in which the app will operate as a platform for insurers to sell policies directly. Chubb is already selling policies to Grab’s Singapore drivers to protect them against loss of income from accidents or illness. But Grab’s hope is that the platform will also be able to leverage its reach to sell different types of insurance to its riders.

Meanwhile, Go-Jek partnered with and invested in PasarPolis, which is already selling tailored life insurance to Go-Jek drivers. Go-Jek, which also operates on-demand food delivery, ticketing, and pharmacy services, raised $35M from Allianz in 2018, which could portend further moves by the super app in the insurance industry.

Given the massive reach of both super apps, Grab and Go-Jek have an opportunity to significantly impact the growth of insurance penetration in Indonesia and the broader Southeast Asia market.

Sourche: CBInsight
Share:

Container Clause

Where Cargo, insured hereunder, is carried in Containers, it is agreed, as between the Assured and Underwriters, that the fitness of the Container is hereby admitted unless the Assured or their servants are privy to such unfitness

Explanation: Often containers have leaky roofs and rust points. It is difficult for the insurer to prove that the containers were defective with the privity of the assured. However for clarity, such clauses are used by brokers when the assured has no control over choice of containers of their overseas sellers. The entry of water into containers is a recurrent problem and can lead to substantial loss. Pre-shipment inspection of containers is suggested but when the turnover is huge and/or the assured is a trader (and not the seller), such pre-shipment surveys become difficult to implement.
Share:

Cargo ISM Endorsement

Applicable with effect from 1 July 1998 to shipments on board :
  1. passenger vessels transporting more than 12 passengers and 
  2. oil tankers, chemical tankers, gas carriers, bulk carries and cargo high speed craft of 500 gt or more

Applicable with effect from 1 July 2002 to shipments on board all other cargo ships and mobile offshore drilling units of 500 gt or more.

In no case shall this insurance cover loss, damage or expense where the subject matter insured is carried by a vessel that is not ISM Code certified or whose owners or operators do not hold an ISM Code Document of Compliance when, at the time of loading of the subject matter insured on board the vessel, the Assured were aware, or in the ordinary course of business should have been aware:
Either that such vessel was not certified in accordance with the ISM Code
Or that a current Document of Compliance was not held by her owners or operators

as required under the SOLAS Convention 1974 as amended.

This exclusion shall not apply where this insurance has been assigned to the party claiming hereunder who has bought or agreed to buy the subject matter insured in good faith under a binding contract.
Share:

Additional Deductible Adaptation Clause - CL. 307

(For use whenever the Institute Machinery Damage Additional Deductible Clause and the Institute Additional Perils Clause 1/10/83 (For use only with the American Institute Hull Clause) are included in the same insurance)

The above- mentioned Institute Machinery Damage Additional Deductible Clause 1/10/83 shall also apply to any claim part thereof in respect of any machinery, shaft, electrical, equipment, or wiring, boiler condenser heating coil or associated pipework, where such claim or part thereof is recoverable hereunder solely by reason of the inclusion of the above-mentioned Institute Additional Perisl Clauses - Hulls 1/10/83 in this insurance.

1/10/83 - CL.307
Share:

Additional Deductible Adaptiation Clause - CL. 306

(For use whenever the lnstitute Machinery Damage Additional Deductible Clause and the lnstitute Clauses 1/10/83 (For use only with the Institute Time Clause 1/10/83) are included in the same insurance)


The Institute Machinery Damage Additional Deductible Clause 1/10/83 shall also apply to any claim or part thereof in respect of any machinery, shaft, electrical equipment or wiring, boiler condenser heating coil or associated pipework, where such claim or part thereof is recoverable hereunder solely by reason of the inclusion of the Institute Additional Perils Clauses – Hulls 1/10/83 in this insurance.


1/10/83 - CL.306
Share:

Insolvency Exclusion Clause

It is hereby agreed that the exclusion “loss damage or expense arising from insolvency or financial default of the owners, managers, charterers or operators of the vessel or aircraft” (incorporated in the Institute Clauses herein) is amended to read as follows:

“In no case shall this insurance cover loss, damage, or expense arising from insolvency or financial default of the owners, managers, charterers or operators of the vessel or aircraft where the Assured is aware, or in the ordinary course of their business should know that said financial default may prevent the normal prosecution of the voyage”

This exclusion shall not apply where this insurance has been assigned to the party claiming hereunder who has bought or agreed to buy the subject-matter insured in good faith under a binding contract.


Share:

On Deck Shipment Clause

Shipments, including those with an under deck bill of lading, are insured on or under deck subject to cover terms and conditions including jettison, washing and loss overboard


Share:

Aon confirms consideration to acquire Willis Towers Watson

Insurance and reinsurance broker Aon has confirmed that it is in the initial stages of considering an offer to acquire Willis Towers Watson (WTW).
Aon WillisReports emerged yesterday that Aon had held preliminary talks with WTW over a potential deal that would see the combination of two of the world’s largest re/insurance brokerages.
Aon has now confirmed that it is in the “early stages of considering an all-share business combination” with WTW.
The broker stresses that while it is considering an offer, its evaluation of a potential deal with WTW remains at a preliminary stage, adding that there is no certainty that any transaction will occur, nor as to the form of terms on which any deal might be pursued.
Aon states that a further announcement on any potential deal will be made in due course, as appropriate.
Source: https://www.reinsurancene.ws/aon-confirms-consideration-to-acquire-willis-towers-watson/
Share:

Aon sedang mempertimbangkan tawaran untuk membeli Willis Towers Watson, lapor Bloomberg



Broker asuransi dan reasuransi global Aon dilaporkan dalam pembicaraan untuk mengakuisisi broker saingannya Willis Towers Watson (WTW), menurut laporan Bloomberg, yang mengutip orang yang mengetahui masalah tersebut.

ABloomberg melaporkan bahwa Aon sedang mempertimbangkan pembelian WTW, dan sedang bersiap untuk mengajukan penawaran dalam beberapa minggu mendatang.

Menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini, kedua perusahaan telah mengadakan pembicaraan awal, meskipun tidak ada yang konkret dan tidak ada keputusan akhir yang dibuat, menambahkan bahwa Aon dapat memutuskan untuk tidak melakukan penawaran tegas.

Kombinasi Aon dan WTW akan menghasilkan perusahaan pialang asuransi dan reasuransi global yang sangat besar dan kuat, berpotensi cukup besar untuk menyaingi Marsh & McLennan, yang baru-baru ini mengakuisisi broker JLT Group, dan yang merupakan broker asuransi terbesar dalam hal pendapatan, menurut Bloomberg.

Menurut laporan Bloomberg, saham WTW melonjak pagi ini di New York ke harga tertinggi mereka, dengan nilai perusahaan sekitar $ 24 miliar.


Diterjemahkan dari: https://www.reinsurancene.ws/aon-is-considering-an-offer-to-buy-willis-towers-watson-reports-bloomberg/
Share:

Membuat Jalan untuk Generasi Z di Tempat Kerja (Part 2)


Generasi Z dan Manajer: Mengenal Satu Sama Lain
Ms Creary mengatakan banyak Generasi Z telah melewati sekolah dengan anggapan itu sebagai semacam olahraga kompetitif — bahwa klub-klub yang bergabung dan bekerja sukarela selama berjam-jam akan menjamin kesuksesan. "Ada perasaan bahwa jika saya hanya mencentang kotak-kotak saya akan sampai ke tempat yang saya inginkan," kata Ms Creary.

“Dan itu bukan bagaimana keberhasilan kadang-kadang bekerja di tempat kerja. Hubungan dengan orang lain benar-benar kunci keberhasilan — dan tidak hanya memahami apa artinya membangun hubungan dengan teman sebaya, tetapi juga mentor, itulah mengapa percakapan tatap muka itu penting. ”

Kepada Generasi Z, Ms. Creary menasihati: “Membangun jaringan pendukung yang akan mengadvokasi Anda atas nama Anda. Pastikan Anda mengenal orang yang berbeda dalam pekerjaan, termasuk mereka yang bekerja di berbagai bidang perusahaan dan dalam peran yang lebih senior. ”Dan mengenai umpan balik, dia mengatakan untuk menetapkan harapan yang realistis. “Umpan balik tidak selalu datang sesering yang Anda inginkan. Jika Anda ingin mengetahui kinerja Anda dan bekerja di perusahaan besar, pertimbangkan untuk mengatur pertemuan triwulanan dengan manajer Anda. Lebih sering dari itu mungkin tidak realistis, terutama jika manajer Anda mengawasi lebih dari lima karyawan. "

Menutup Celah Generasi
Di sisi lain, manajer harus transparan dan memperkuat norma dan kebijakan penting di tempat kerja, saran Creary. “Ketahuilah bahwa Anda dan rekan kerja Gen Z Anda mungkin mendekati pekerjaan secara berbeda, jadi pastikan bahwa Anda memiliki percakapan langsung tentang hal ini di muka yang menyentuh norma dan kebijakan di tempat kerja. Bersiaplah untuk menjelaskan mengapa norma-norma ini penting. ”

Ini juga dapat membantu pengawas untuk mengenal karyawan Generasi Z pada tingkat yang lebih pribadi. “Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda saat mengungkapkan informasi pribadi,” katanya. “Namun, karyawan Gen Z Anda mungkin lebih cenderung untuk berbagi informasi pribadi sebagai cara untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan Anda. Tidak ada yang meminta Anda untuk berbagi informasi yang membuat Anda merasa tidak nyaman, tetapi pertimbangkan apakah ada hobi, fakta menyenangkan, pengalaman, dll. yang dapat Anda bagikan dengan mereka yang akan membantu mereka melihat Anda sebagai orang yang nyata. "

Manajer mungkin pintar untuk "mengambil pendekatan yang lebih realistis dan untuk duduk dan benar-benar mengingat seperti apa kita pada usia itu dan apa yang kita lakukan," kata Matthew Bidwell, associate professor of management di The Wharton School. “Orang-orang di dunia kerja tidak memiliki banyak pengetahuan diam-diam yang telah dipelajari manajer selama bertahun-tahun tentang hal-hal seperti cara yang pantas untuk berperilaku — cara untuk menghadirkan diri Anda, semua hal semacam itu. Itu membutuhkan waktu untuk belajar, dan Anda harus khawatir tetapi tidak ngeri bahwa orang-orang muda tidak mengetahuinya. "

Lebih Terhubung ke Orang Tua Mereka
Satu perubahan sosial besar dapat memiliki implikasi bagi tenaga kerja masa depan. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang tua dalam beberapa tahun terakhir telah menghabiskan jauh lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka, sebut Tn. Bidwell.

Para ibu beralih dari menghabiskan 10 jam per minggu dengan anak-anak mereka pada tahun 1965 menjadi 14 jam pada tahun 2011; ayah dari 2,5 jam per minggu dengan anak-anak mereka pada tahun 1965 hingga 7 jam pada tahun 2011, menurut sebuah studi Pew Research Center 2012.

Ini bisa menciptakan gelombang pekerja yang lebih berhati-hati dan kurang mandiri — atau mereka yang lebih baik dalam mengambil arahan. "Itu bisa baik," kata Mr. Bidwell.

Jadi, Generasi Z mungkin ingin memperhatikan apa yang dapat mereka lakukan untuk mengakomodasi lingkungan mereka. Sarannya kepada siapa pun yang baru saja memasuki dunia kerja: "Perhatikan, ajukan banyak pertanyaan, hormati fakta bahwa Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini seperti memasuki sekolah baru untuk pertama kalinya. "

Bagian ini awalnya diterbitkan oleh Knowledge @ Wharton

Knowledge@Wharton
Knowledge@Wharton at the Wharton School of the University of Pennsylvania
Diterjemahkan dari link BrinkNews
Share:

Membuat Jalan untuk Generasi Z di Tempat Kerja (Part 1)


Sebagai sebuah kelompok, mereka "sadar, rajin, dan didorong oleh uang," lapor The Wall Street Journal, tetapi juga "secara sosial canggung dan takut mengambil alih kendali." Forbes mengatakan mereka "ingin bekerja sendiri dan direview berdasarkan penilaian mereka", "memiliki kelebihan daripada keunggulan tim mereka. ”

Generasi Z akan tiba, dan mereka berbeda dari generasi sebelumnya — atau setidaknya begitulah kohort muda ini digambarkan saat mulai memasuki dunia kerja. Setelah kaum tradisionalis, baby boomer, Generasi X dan Generasi Y / milenium, kita memiliki Generasi Z — grup yang lahir setelah 1995, sekarang mulai lulus kuliah.

Tetapi apakah Generasi Z benar-benar berbeda, dan jika demikian, bagaimana?

Ketika datang untuk menganggap karakteristik dan menerima saran tentang generasi tertentu, emptor peringatan. Generalisasi berlebihan terhadap grup apa pun adalah bisnis yang licin. “Kita harus berhati-hati untuk melihat 'makhluk' kompleks seperti mereka,” kata asisten profesor manajemen Stephanie Creary Wharton. Kategori generasi, dia mencatat, mungkin membantu kita untuk memahami kesamaan. “Tetapi orang-orang juga akan berperilaku dengan cara yang konsisten dengan berbagai identitas mereka yang lain. Kami ingin memastikan bahwa kami tidak menciptakan bias. "

Lebih Beragam dan Lebih Baik Dididik
Meski begitu, Generasi Z terbuat dari barang yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka berada di jalur untuk menjadi generasi yang paling beragam dan berpendidikan tinggi, menurut analisis Pusat Penelitian Pew baru-baru ini dari data Biro Sensus A.S. Hanya sedikit lebih dari setengah generasi pasca-milenial (istilah yang digunakan Pew untuk mengidentifikasi anak-anak berusia 6 hingga 21 tahun) adalah orang kulit putih non-hispanik, dan yang tertua dari mereka memasuki perguruan tinggi dengan tingkat yang lebih tinggi daripada generasi milenium ( 59 persen untuk Gen Z, dan 53 persen untuk milenium) ketika mereka seusia.

Secara signifikan bagi pengusaha dan manajer, Generasi Z memasuki dunia kerja dengan pengalaman kerja yang lebih sedikit daripada generasi sebelumnya. Hanya 19 persen dari anak berusia 15 hingga 17 tahun pada tahun 2018 melaporkan bekerja selama tahun kalender sebelumnya, dibandingkan dengan 30 persen generasi millenial pada kelompok usia yang sama pada tahun 2002. Pada tahun 1968, hampir setengah dari baby boomer (48 persen) dilaporkan bekerja pada tahun sebelumnya ketika mereka berusia antara 15 dan 17 tahun.

Apakah Pengusaha bersedia Mengakomodasi Mereka?
Tetapi jika Generasi Z berbeda, berapa banyak pengusaha yang sebenarnya bersedia untuk mengakomodasi generasi pekerja baru ini karena jumlahnya mulai tumbuh sebagai persentase dari tenaga kerja? Ini mungkin tergantung pada pasang surutnya pasar tenaga kerja. “Pada pertengahan 1990-an, sebelum gelembung meletus, situasi ketenagakerjaan tampak bagus, dan pengusaha menjadi khawatir tentang pendatang baru — kemudian Generasi X,” kata manajemen dan organisasi Penn State, profesor Aparna Joshi.

“Ada percakapan serupa yang terjadi tentang milenium baru, dan atribusi dibuat tentang bagaimana tampaknya mereka berhak dan apa yang bisa dilakukan untuk membuat mereka tetap terlibat. Setelah ekonomi merosot, percakapan ini menjadi kurang tentang apa yang disebut hak mereka dan lebih banyak tentang pengembangan keterampilan mereka. "

Selain itu, bahkan di pasar tenaga kerja yang relatif ketat saat ini, sebagian besar manajer hampir tidak tidur di malam hari memikirkan cara untuk menyesuaikan pesan mereka dengan lebih baik untuk generasi pekerja tertentu.

“Sejujurnya, kita tidak bisa mendapatkan pengawas di sebagian besar organisasi untuk memberikan perhatian nyata kepada bawahan mereka, dan gagasan bahwa kita akan memasak beberapa cara khusus untuk membuat mereka mengelola orang-orang muda ini sebagai lawan dari apa yang mereka lakukan untuk orang lain adalah lucu , ”Kata profesor manajemen Peter Cappelli, direktur Pusat Sumber Daya Manusia Wharton.

Dalam hal perbedaan yang terukur, Generasi Z tidak hanya lebih beragam, tetapi para anggotanya juga mendefinisikan keragaman lebih luas. Dalam sebuah studi baru-baru ini tentang milenium versus Generasi Z, Generasi Z menekankan hampir sama pentingnya tentang keragaman jenis kelamin, usia, kecacatan dan pendidikan, tetapi mereka lebih menekankan pada keanekaragaman yang berkaitan dengan identitas dan agama LGBT daripada para tetua mereka.

Generasi Z berharap untuk tetap di perusahaan untuk waktu yang kurang dari milenium, dan mereka memiliki harapan yang lebih tinggi untuk perilaku etis pada pihak majikan mereka, menurut penemuan studi.

Perilaku yang Berbeda di Tempat Kerja
Generasi Z telah dibentuk oleh serangkaian konvensi sosial yang berbeda, dan itu membuat mereka berperilaku berbeda di tempat kerja, kata Ms Creary. Mereka begitu nyaman dengan teknologi, misalnya, sehingga kadang-kadang mereka kesulitan mengenali ketika percakapan tatap muka lebih tepat daripada pertukaran email atau pesan teks.

“Saya berasal dari Generasi X, dan saya pikir generasi kita dibesarkan untuk menghargai nilai percakapan telepon atau pertemuan pribadi, sebagai lawan dari sesuatu di forum terbuka yang mudah dibagikan,” kata Ms Creary. “Itu adalah tantangan bagi orang-orang yang sekarang memasuki dunia kerja — membantu mereka memahami apa bentuk komunikasi yang paling tepat. Kapan Anda menggunakan email dan kapan Anda berhenti di kantor seseorang untuk menjadwalkan rapat? Ada perbedaan nyata dalam hal harapan. "

Perbedaan lain berkisar pada formalitas. “Banyak pekerja yang lebih tua dilatih untuk memiliki hubungan yang berbeda dengan orang-orang di posisi otoritas, sehingga kami akan mengatasinya secara lebih formal,” kata Ms. Creary. “Kami dilatih dengan gagasan yang menganggap otoritas sangat penting terlepas dari apakah Anda menghormati gagasan mereka. Generasi ini mengharapkan hubungan yang lebih dekat dengan orang-orang yang berwenang, sehingga mereka dapat memperlakukan orang-orang yang lebih tinggi dalam hierarki sebagai teman mereka, dan itu dapat menjadi masalah di tempat kerja di mana ada struktur dan rantai komando yang penting. "


Share:

Labels

News (617) Clause (338) aamai (95) Artikel Afrianto (78) LSPP (76) Soal AAMAI (72) Buku (66) Engineering Clause (60) OJK (59) AAAIK (58) C Clause (55) A Clause (44) P Clause (43) S Clause (37) Soal Jawab (37) D Clause (35) Banjir (31) 102 (28) R Clause (28) Clause Liability (27) CAR Clause (26) Istilah (26) 101 (25) E Clause (25) Pengetahuan (25) 103 (24) L Clause (23) Praktek Bisnis (23) Klausul (22) Marine Cargo (22) liability insurance (21) pengertian (21) reasuransi (21) Headline (20) asuransi kebakaran (20) I Clause (19) Risk Management (18) Clause PAR (17) F Clause (17) M Clause (17) B Clause (16) Clause Property (15) Syariah (15) Marine Hull (14) Prinsip Asuransi (14) asuransi syariah (14) Asuransi Mikro (13) 201 (12) N Clause (12) O Clause (12) Surety Bond (12) cargo (12) klaim (12) pengantar asuransi kerugian komersil (12) 104 (11) Clause Marine (11) Motor Car (11) 303 (10) Asuransi kendaraan bermotor (10) Hukum Asuransi (10) PA (10) asuransi kecelakaan diri (10) asuransi personal (10) prosedur klaim (10) Jasindo (9) KOMPAS001 (9) Magang Beasiswa (9) contractor (9) hull (9) BPJS (8) Business Interruption (8) dikecualikan (8) micro insurance (8) perluasan jaminan (8) 108 (7) BUMN Reasuransi (7) Directors’ And Officers’ Liability (7) FAQ OJK (7) Insurance Day (7) Jiwasraya (7) Merger (7) Peringkat Asuransi (7) Risk Management Calculations (7) erection (7) fidelity (7) kebongkaran (7) pengirimanuang (7) Bali Rendezvous (6) Engineering (6) Maritime Convension (6) Regulasi (6) dijamin (6) penyimpananuang (6) 106 (5) Asuransi Kredit (5) Broker (5) Case Study (5) IGTC (5) LEG Clause (5) marketing (5) objek pertanggungan (5) polis (5) premi (5) 107 (4) Asuransi Pertanian (4) Asuransi Ternak (4) Benefit (4) CGI (4) Contoh (4) Gempa (4) Money Insurance (4) Nelayan (4) Online Marketing (4) Perlindungan Konsumen (4) Produk (4) Sejarah (4) Survey Report (4) brand (4) investasi (4) jenis (4) jenis jaminan (4) limit pertanggungan (4) Asuransi Perjalanan (3) BJPS (3) Bencana (3) Chubb (3) Contractor Plant and Machinery (3) Deductible BI (3) Forwarder Liability (3) G Clause (3) Hukum Dagang (3) Hukum Ketenagakerjaan (3) ICC 1982 (3) ICC 2009 (3) Iklan (3) Incoterms (3) Kendaraan (3) Maipark (3) Pesawat (3) Professional Indemnity (3) Prudential (3) Sinar Mas (3) asuransi properti (3) hukum (3) periode pertanggungan (3) public liability (3) struktur polis (3) Asuransi Jiwa Jaminan (2) Asuransi Politik (2) Asuransi Sosial (2) Asuransi Tanaman (2) Bank Garansi (2) Bukopin (2) Bumi Asih (2) Clause Motor Car (2) Custom Bond (2) Fronting Company (2) GDEAI (2) Galeri Foto (2) Great Eastern (2) H Clause (2) Hukum Perdata (2) Kebijakan (2) Khusus (2) Kurikulum Asuransi (2) Market (2) Opini (2) PMA (2) PSAK 62 (2) Personal Accident (2) Perusahaan atau Korporasi (2) Professional Liability (2) RSKKNI (2) Rangkuman (2) Reportase (2) SPPA (2) Sertifikasi Agen (2) Soal (2) Stockthroughput (2) Undang-undang (2) asuransi tradisional (2) aturan pemerintah (2) danaACA (2) dokumen pendukung (2) ganti rugi (2) harga pertanggungan (2) ifrs (2) indemnity (2) ketentuan (2) kontribusi (2) liability (2) perkecualian (2) product liability (2) rating (2) risiko (2) sharing (2) subrogasi (2) 105 (1) 202 (1) 302 (1) 304 (1) 401 (1) AXA Mandiri (1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (1) Asuransi Migas (1) Asuransi Parkir (1) Asuransi Petani (1) Asuransi Peternak (1) BRI (1) BTN (1) Badai Sandy (1) Banker Clause (1) Boiler and Pressure Vessel (1) Bosowa (1) Bringin Life (1) Bumiputera Life (1) Burglary Insurance (1) CPM / HE (1) Cakrawala Proteksi (1) Cigna (1) Ciputra (1) Commonwealth Life (1) Contractor Allrisk (1) Daftar Perusahaan Asuransi (1) DanaGempa (1) DanaRumah (1) Dayin Mitra (1) Ekspor (1) Electronic Equipments (1) Emiten (1) Energi (1) Engineering Fee (1) Erection Allrisk (1) FPG Indonesia (1) File Insurance (1) Financial Planning (1) Forum Diskusi (1) Haji (1) Hanwha Life (1) Himalaya (1) IPO (1) ISO 31000 (1) InHealth (1) Insurance Act 2015 (1) Izin Usaha (1) J Clause (1) JKN (1) Jokowi (1) KOMPASANGGI (1) KOMPASMEGA (1) Kanker (1) Kebakaran (1) Kelas Konstruksi (1) Kilasdunia (1) Kinerja Asuransi Umum (1) Korupsi (1) Kupasi (1) LPS (1) Lloyd's (1) Loss Limit (1) Manulife (1) Medi Plus (1) Media Asuransi (1) Mitra Maparya (1) Multifinance (1) NMA (1) Obamacare (1) P&I (1) P&I Insurance (1) PAYDI (1) PSKI (1) Pailit (1) Pasar Senen (1) Penerbangan (1) Pertambangan (1) Perubahan Iklim (1) Powerpoint (1) Pungutan OJK (1) RBC (1) Ritel (1) SDM (1) Sadar Asuransi (1) Sengketa Asuransi (1) Slide (1) asuransi warisan (1) aturan (1) bapepam-lk (1) biaya (1) biro klasifikasi (1) business (1) definisi (1) fungsi asuransi (1) insurable interest (1) jaminan (1) judi (1) kapal (1) komposisi (1) kurs valas (1) kyc (1) laik (1) manfaat asuransi (1) modifikasi (1) ownrisk (1) pemasaran (1) penutupan asuransi (1) perlengkapan tambahan (1) product guarantee (1) proximate cause (1) sistem pemasaran asuransi (1) strategi pemasaran (1)

Blog Archive

Kurs Bank Central Asia (BCA)

Recent Posts