OJK belum paham asuransi


Terkuaknya masalah likuiditas PT Asuransi Jiwasraya ke permukaan menjadi pertanyaan pada peranan dan fungsi pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sejak berdiri tahun 2013, lembaga ini sudah mempunyai instrumen pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan (LJK) termasuk asuransi, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Namun pengawasan secara langsung maupun tidak langsung tersebut, belum dilaksanakan oleh regulator secara baik, sehingga terjadilah kealpaan dan ketidakpahaman OJK menyelesaikan masalah perusahaan asuransi.

Pengawasan secara langsung dilakukan lewat pemeriksaan atau pelaporan rutin, terkait kinerja, penilaian risiko dan kesehatan keuangan perusahaan. Kemudian mewaspadai direksi dan komisaris perusahaan yang mempunyai reputasi buruk.

Sementara pengawasan tidak langsung, dilakukan melalui sistem pelaporan semisal assessment manajemen risiko dan instrument compliance lainnya.

Pengawasan OJK terlihat lemah karena tidak mengetahui seluk beluk perusahaan asuransi. Mereka tidak mengetahui proses bisnis, sehingga tidak mengetahui jika ada penyimpangan di perusahaan tersebut seperti memahami laporan risk based capital dan tata kelola risiko.

Seharusnya, OJK diisi oleh para praktisi yang sudah mempunyai pengalaman di dunia asuransi selama 15 hingga 20 tahun. Di sisi lain, OJK semestinya turun ke lapangan untuk memeriksa secara detail apabila terjadi penyimpangan atau permasalahan di industri asuransi, kemudian menyampaikan laporan ke bagian bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK).

Apabila ada perusahaan asuransi yang menjanjikan tawaran imbal hasil tinggi, seharusnya OJK juga tidak memberikan izin produk tersebut. Karena mendapatkan return tinggi adalah sesuatu yang sulit. Perusahaan asuransi juga harus cari alternatif return dari investasi lain, untuk membayar return pemegang polis ketika kondisi pasar sedang sulit.•

Ditulis oleh: Hotbonar Sinaga / Pengamat Asuransi
Sumber: Kontan

Share:

Pertemukan Pelaku Asuransi, AAUI Gelar 24th Indonesia Rendezvous


Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) kembali menggelar 24th Indonesia Rendezvous (IR), 24-27 Oktober 2018 di Bali Nusa Convention Centre (BNCC), Nusa Dua, Bali. Acara berskala internasional ini mengambil tema "From Potential to Reality, 2019 and Beyond".

IR merupakan ajang bertemu, bertukar pikiran, dan terjalinnya kerja sama yang melibatkan lebih dari 450 peserta dari 13 negara dari berbagai perusahaan asuransi, broker, maupun reasuransi yang datang dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Inggris.

Ketua Bidang Hubungan Internasional AAUI, Adi Pramana mengatakan bahwa pihaknya ingin industri asuransi umum lebih mengambil peranan dalam mensejahterakan masyarakat, mengurangi beban keuangan pemerintah dalam mengatasi bencana, dan lebih memajukan perekonomian bangsa.

"Oleh karena itu lah, kami dari asosiasi didukung penuh oleh pemerintah Indonesia serta para pelaku industri, baik dalam dan luar negeri, ingin memberikan pandangan yang seluas-luasnya terhadap apa yang saat ini terjadi dan bagaimana industri asuransi umum dapat berkontribusi lebih besar lagi di 2019 dan seterusnya," katanya di Nusa Dua, Bali, Rabu (24/10/2018).

Senada dengan Adi Pramana, Ketua Panitia IR tahun ini, Rismauli Silaban mengatakan, tujuan IR digelar untuk memberikan pandangan bagi pelaku bisnis industri asuransi umum yang datang dari berbagai negara agar dapat merefleksikan diri dengan menggali berbagai potensi maupun menciptakan kesempatan, baik dari dalam maupun dari lingkungan industri asuransi.

"Melalui acara yang kami ramu selama tiga hari ini, berharap dapat memberikan hints atau petunjuk untuk menghadapi realitas di 2019 dan ke depannya," ucapnya.

Beberapa nama dijadwalkan hadir pada acara bergengsi ini, salah satunya adalah Riswinandi selaku Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank OJK yang akan memberikan keynote speech sekaligus membuka acara IR secara resmi pada esok hari.

Turut hadir para panelis dari dalam dan luar negeri yang berpengalaman dan ahli di bidang ekonomi nasional maupun global, konsultan, praktisi asuransi, dan tentunya regulator Indonesia.

Rangkaian kegiatan IR tahun ini akan dibuka dengan gala dinner sebagai penanda selamat datang kepada para peserta yang digelar malam ini, Rabu (24/10/2018). Dilanjutkan esok hari dengan opening ceremony, lalu diskusi panel dengan tema Actualizing Positive Environment, dan pada hari terakhir, Jumat (26/10/2018), diskusi panel akan mengangkat tema Improvements from Within.

Salah satu yang menarik pada tahun ini, Rendezvous Room akan dibuka sejak awal acara, sehingga para peserta leluasa untuk mengadakan pertemuan dan berharap dapat memfasilitasi pertemuan-pertemuan penting untuk pengembangan bisnis industri asuransi umum lebih maksimal lagi. Selain itu, rebranding logo IR dilakukan dengan menampilkan logo IR terbaru yang menggambarkan nuansa bali.

IR 24th didukung oleh PT Reasuransi Indonesia Utama (persero) atau Indonesia Re, PT Reasuransi Nusantara Makmur atau Nusantara Re, PT Reasuransi Nasional Indonesia atau Nasional Re, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk atau Tugu Insurance, Asuransi Astra Buana, Asuransi Tri Pakarta, Asuransi Askrindo, Adira Insurance, AON Benefield Indonesia, Asuransi MSIG Indonesia, Tugu Reasuransi Indonesia, Reasuransi Maipark Indonesia, Asuransi Jasa Indonesia, PT Asuransi Ramayana Tbk, AIG Insurance Indonesia, Asuransi Wahana Tata, LLOYD’S Asia, Asuransi Bumiputera Muda, Asuransi Asei Indonesia, Maskapai Reasuransi Indonesia, Asuransi Tokio Marine Indonesia, Asuransi Bina Dana Artha, Sompo Insurance Indonesia, Guy Carpenter & Company Private Limited, McLarens Indonesia, Asuransi Raksa Praktikara, RKH Speciality Asia Pacific Pte Ltd, PT Jasa Cipta Rembaka, dan Indonesia Eximbank.


Sumber: Warta Indonesia

Penulis: Annisa Nurfitriyani

Editor: Rosmayanti

Foto: Fajar Sulaiman
Share:

Memetik pelajaran di hari asuransi nasional


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamis (18/10) diperingati sebagai hari asuransi nasional atau yang lebih populer disebut insurance day. Selain untuk dirayakan, momen tahun ini sepertinya cocok dimanfaatkan sebagai ajang pembelajaran.

Masih ada setumpuk pekerjaan rumah yang mesti dibenahi industri asuransi. Contohnya angka penetrasi asuransi yang masih berkisar di angka 6%. Bahkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2017 mencatat angka literasi asuransi di Indonesia malah menurun jadi 15,76%. Padahal pada survei tahun 2013, angkanya masih sebesar 17,84%.

Artinya dari 100 penduduk Indonesia, tak sampai 16 orang diantaranya yang sudah mengenal lembaga jasa keuangan asuransi.

Saat tantangan soal literasi masih besar, justru masalah keuangan salah satu pemain besar yang kini terangkat. PT Asuransi Jiwasraya, perusahaan asuransi jiwa milik negara dengan aset sebesar Rp 45,6 triliun di tahun lalu, mengalami masalah likuiditas dalam membayar klaim saving plan yang jatuh tempo.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengakui masalah ini patut jadi pembelajaran dalam menjalankan roda bisnis.

Berkaca pada masalah Jiwasraya, Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK Moch. Ichsanuddin mengatakan, perusahaan asuransi mesti hati-hati kalau menjanjikan imbal yang melekat pada produk yang dipasarkan.

"Kalau menjanjikan return jangan tinggi-tinggi kalau memang susah untuk memenuhinya," kata dia, Kamis (18/10).

Saat sebuah polis saving plan jatuh tempo, perusahaan asuransi harus membayar nilai pokok dan bunga. Makanya, perusahaan asuransi harus melakukan antisipasi dengan menempatkan investasi di instrumen yang likuid.

Penyesuaian antara aset dan kewajiban pun mutlak dibutuhkan. Terutama untuk asuransi jiwa yang perputaran uangnya relatif dalam jangka panjang.

Sementara itu masih ada sejumlah pertanyaan lain terkait masalah yang menerpa Jiwasraya. Misalnya saja dari langkah manajemen baru yang melakukan audit ulang terhadap kondisi keuangan perusahaan. Soal ini, Ichsanuddin bilang pihaknya masih menunggu audit investigasi yang dilakukan BPK dan BPKP untuk bisa mendapat gambaran yang lebih utuh.

Tapi bila dilihat selintas, laporan keuangan Jiwaraya hasil audit ulang memang menunjukan sejumlah perubahan yang cukup signifikan. Ambil contoh pos laba bersih yang terjun bebas dari Rp 2,4 triliun menjadi cuma Rp 360,3 miliar.

Melihat hal ini, ia menyinggung kasus lain yang berkaitan laporan keuangan. Tak lain adalah soal SNP Finance.

Bermula dari kasus gagal bayar MTN, masalah perusahaan pembiayaan tersebut terus melebar. Sampai regulator pun mengganjar sanksi pembatalan pendaftaran kepada Kantor Akuntan Publik Satrio Bing Eny & Rekan (KAP SBE) yang merupakan entitas dari Deloitte Indonesia.

Sanksi ini disebutnya turut jadi perhatian dunia internasional. Efeknya juga membuat auditor kini jadi makin berhati-hati.

Kedua masalah ini, menurut dia, juga harus menjadi pelajaran bagi akuntan publik. Dalam menjalankan tugasnya, mereka harus selalu berpegang pada standar operasional dan pedoman-pedoman lain yang harus ditaati.

"Sehingga ini harus menjadi pelajaran bagi semuanya. Bukan hanya untuk satu atau dua perusahaan asuransi," pungkasnya.




Sumber: Kontan
Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Herlina Kartika
Share:

Tak Hanya Kejar Target Premi, OJK Imbau Asuransi Lakukan Literasi


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moch Riezky F Purnomo mengatakan Industri Asuransi merupakan salah satu industri yang penting di dalam sistem keuangan.

Industri asuransi kata Riezky berperan dalam penyerapan resiko bisnis dan mitigasi resiko untuk setiap risk event yang mungkin terjadi dalam dunia bisnis.

Selain itu secara retail industri asuransi juga berperan serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk menciptakan image yang baik terhadap asuransi secara keseluruhan, Riezky mengatakan perlu adanya transparansi dalam menawarkan produk dan menjelaskan manfaatnya.

"Harus lebih transparan dan jelas, diterangkan secara mendetail agar masyarakat paham. Jangan sampai hanya mengejar target sehingga ditengah jalan mereka melakukan klaim dan hasil tidak seperti yang diharapkan," ujarnya.


Sumber: Tribunnews
Penulis: Maskartini
Editor: madrosid
Share:

Insurance Day 2018 Fokus pada Generasi Milenial

Jakarta, Gatra.com - Dewan Asuransi Indonesia (DAI) selenggarakan serangkaian kegiatan pada Insurance Day 2018.

“Ini merupakan salah satu kalender industri asuransi Indonesia dalam mendukung kegiatan pemerintah, meningkatkan literasi dan edukasi keuangan. Sekaligus kita ingin membantu meningkatkan dan memajukan penetrasi kesadaran berasuransi di Indonesia,” jelas Ketua Dewan Asuransi Indonesia, Dadang Sukresna, di Jakarta, Kamis (18/10).

Melanjutkan tema terdahulu yang telah menjadi jargon industri asuransi yakni “Mari Berasuransi”, Insurance Day 2018 mengangkat sub tema “Cerdas, Sejahtera, dan Mandiri”.

“Tema ini menggambarkan tujuan bersama industri asuransi Indonesia, untuk dapat meningkatkan pemahaman asuransi, khususnya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Kita ingin mendorong ketersediaan akses dan layanan keuangan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia,” tambah Dadang.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2017, indeks literasi asuransi di Indonesia baru mencapai 15,76%. Angka ini turun dari survei 2013 lalu di angka 17,84%. Sementara tingkat utilitas mencapai 12,08%, tidak berubah jauh dari survei 2013 yang sebesar 11,81%.

Ini berarti, dari 100 orang Indonesia hanya 15 sampai 16 orang yang mengenal lembaga jasa keuangan asuransi. Sementara hanya ada 12 orang yang sudah menggunakan jasa asuransi.

“Penetrasi asuransi di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 6-7 %. Jumlah ini terbilang masih sangat kecil dibandingkan populasi Indonesia yang mencapai lebih dari 265 juta jiwa, yang memiliki asuransi baru mencapai 1,7%,” ujar Dadang.

Ia menambahkan, dari jumlah penduduk yang begitu besar, tentunya kenaikan penetrasi 1% saja akan terlihat peningkatan yang cukup besar dari sisi jumlah orang yang memahami pentingnya berasuransi.
Kegiatan Insurance Day 2018 fokus pada generasi milenial. Pasalnya, berdasarkan data BPS, jumlah usia yang masuk pada generasi milenial (usia 17-35 tahun) atau disebut juga sebagai Gen “Y”, mencapai angka 30,1%. Generasi ini dianggap sebagai kekuatan besar perekonomian bangsa ke depan, sebagai generasi yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Insurance Day 2018 melakukan kegiatan literasi keuangan secara serentak di 15 kota bertajuk “Goes To Campus”, melalui seminar dan kuliah umum. Mulai dari Banda Aceh, Medan, Palembang, Semarang, Jogjakarta, Surakarta, Surabaya, jember, Bali, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Manado, dan Jayapura. Puncak acara Insurance Day 2018 akan diselenggarakan pada 16-18 November 2018 mendatang di Bandung.

Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Flora L.Y. Barus
Sumber: Gatra
Share:

OJK Bebaskan Distribusi Asuransi Lewat Digital

Bisnis.com, JAKARTA – Pada peringatan hari asuransi nasional ke-13, rendahnya literasi masyarakat terhadap asuransi menjadi persoalan utama bagi para pengusaha perusahaan asuransi.

Data OJK 2017 menyebutkan literasi asuransi di Indonesia baru mencapai 15,76% angka ini turun 2,12% dibandingankan dengan 2013 yang sebesar 17,84%.

Kemudian, untuk tingkat utilitas mencapai 12,08%, turun dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebesar 11,81%

Dari data tersebut dapat diartikan bahwa dari 100 orang Indonesia, hanya terdapat 16 orang yang mengenal produk asuransi dan hanya 12 orang yang memiliki polis.

Penurunan literasi masyarakat terhadap asuransi ini dipertanyakan mengingat jumlah pengguna internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan keterbukaan informasi ini, seharusnya, literasi masyarakat akan asuransi kian membaik.

Berdasarkan data website emarketer, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia sebagai pengguna internet terbanyak dengan total pengguna kurang lebih 123 juta orang.

Artinya lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah ‘melek’ teknologi digital. Potensi inilah yang nampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dukungan OJK
Melihat permasalahan  ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi lampu hijau kepada industri asuransi untukm memanfaatkan akses digital.

Deputi Komisioner Pengawas IKNB II, Moch. Ihsanuddin mengungkapkan pemerintah bersama lembaga keuangan sepakat mendorong inklusi masyarakat ke sektor jasa keuangan dengan target 75% pada akhir 2019.

Ihsanudin menambahkan untuk mempermudah penertrasi kepada masyarakat, OJK memberikan keluasan kepada perusahaan asuransi untuk memanfaatkan sarana digital.

Dia meyakini saat ini belum diperlukan regulasi yang mengatur pemasaran asuransi lewat digital.
“Apakah [Insurtech] harus diatur? Kalau mereka mau memasarkan lewat itu monggo yang penting, laku dan tidak merugikan pemegang polis, nah ini perlu dikaji secara komprehensif,” kata Ihsanudin di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018).

Dia menjelaskan lahirnya regulasi pemasaran asuransi lewat digital atau insurtech dikhawatirkan akan mengekang pelaku usaha asuransi dalam melakukan penetrasi.

Regulasi tersebut, lanjutnya, juga dikhawatirkan membuat para agrigator asuransi digital beralih  ke agen dalam memasarkan asuransi tanpa mengantongi lisensi.

“Jangan sampai agrigator menutup polis kemudian menjadi agen karena agrigator belum tentu punya lisensi keagenan, ngawur nanti,” ujar Ihsanudin.

Ihsanuddin juga menerangkan tidak semua pemasaran digital harus diatur. OJK selektif dalam mengeluarkan regulasi, selama keamanan industry dan konsumen masih terjamin.

“Kita enggak bisa atur semua, emang OJK gusti Allah, kita harus pilah dan pilih mana yang perlu diatur mana yang tidak, kita harus melindungi industry dan konsumen juga, jangan semuanya diatur,” imbuhnya.

Saat ini OJK baru mengatur regulasi untuk peer-to-peer lending dan penjaminan yang termaktub dalam POJK no.77/2016 dan POJK no.2/2017.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia, Dadang Sukresna mengatakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap asuransi, maka diangkatlah tema “Mari Berasuransi, Cerdas, Sejahter dan Mandiri,” pada hari asuransi nasional tahun ini.

Dia menambahkan tema tersebut memiliki arti bahwa industri asuransi berkeinginan kuat dalam meningkatkan pemahaman berasuransi, mendorong ketersediaan akses dan layanan keuangan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

“Dari jumlah penduduk yang begitu besar, kenaikan penetrasi 1% terlihat cukup besar dari sisi jumlah orang yang memahami pentingnya berasuransi,” kata Dadang

Sasar  Milenial
Berdasarkan catatan Dewan Asuransi Indonesia, penetrasi asuransi kepada masyarakat baru sebesar  7% , adapun jumlah penduduk Indonesia yang memiliki polis sebanyak 4,5 juta jiwa atau 1,7% dari 265 juta jiwa penduduk Indonesia.

Dalam upaya memperkenalkan asuransi tersebut, Dewan Asuransi Indonesia  melakukan kegiatan literasi serentak “goes to campus” di 18 kota melalui seminar mengenai asuransi. Acara literasi bahkan mencatatkan rekor MURI sebagai “Literasi Asuransi Terbanyak”.

Ketua Panitia Insurance Day 2018, Yanti Parapat menjelaskan alasanar seminar asuransi dilakukan di kampus-kampus karena  milenial diyakini sebagai pasar potensial dan cocok dengan produk asuransi.
Berdasarkan data BPS 2018, jumlah generasi milenial (usia 17-35 tahun) saat ini mencapai 79,5 juta jiwa. “Strategi asuransi tahun ini adalah enhancing hubungan antara asuransi dengan passion milenial yang dikemas menjadi suatu festival,” kata Yanti.

 Puncak acara Hari Asuransi Nasional dipusatkan di Bandung, Jawa Barat.

Sumber: Bisnis
Share:

Labels

News (607) Clause (334) aamai (83) Artikel Afrianto (68) LSPP (61) Engineering Clause (60) OJK (59) Soal AAMAI (56) C Clause (52) AAAIK (51) Buku (45) A Clause (42) P Clause (42) S Clause (37) D Clause (35) Banjir (31) R Clause (28) Clause Liability (27) 102 (26) CAR Clause (26) Istilah (26) E Clause (25) Pengetahuan (25) 101 (23) L Clause (23) reasuransi (23) 103 (22) Klausul (22) Praktek Bisnis (22) Soal Jawab (22) pengertian (21) Headline (20) asuransi kebakaran (20) Marine Cargo (19) liability insurance (19) I Clause (18) Clause PAR (17) F Clause (17) M Clause (17) B Clause (16) Clause Property (15) Prinsip Asuransi (14) Risk Management (14) Syariah (14) Asuransi Mikro (13) N Clause (13) 201 (12) Surety Bond (12) cargo (12) klaim (12) pengantar asuransi kerugian komersil (12) Motor Car (11) O Clause (11) asuransi syariah (11) 303 (10) Asuransi kendaraan bermotor (10) Hukum Asuransi (10) KOMPAS001 (10) PA (10) asuransi kecelakaan diri (10) asuransi personal (10) prosedur klaim (10) 104 (9) Jasindo (9) Magang Beasiswa (9) contractor (9) hull (9) BPJS (8) dikecualikan (8) micro insurance (8) BUMN Reasuransi (7) FAQ OJK (7) Insurance Day (7) Merger (7) Peringkat Asuransi (7) Risk Management Calculations (7) erection (7) fidelity (7) kebongkaran (7) pengirimanuang (7) perluasan jaminan (7) Bali Rendezvous (6) Business Interruption (6) Engineering (6) Jiwasraya (6) Regulasi (6) dijamin (6) penyimpananuang (6) 106 (5) 108 (5) Case Study (5) Clause Marine (5) IGTC (5) LEG Clause (5) Marine Hull (5) Maritime Convension (5) objek pertanggungan (5) premi (5) Asuransi Ternak (4) Benefit (4) Broker (4) CGI (4) Contoh (4) Gempa (4) Nelayan (4) Perlindungan Konsumen (4) Produk (4) Sejarah (4) brand (4) investasi (4) jenis (4) jenis jaminan (4) limit pertanggungan (4) Asuransi Perjalanan (3) Asuransi Pertanian (3) BJPS (3) Bencana (3) Chubb (3) Contractor Plant and Machinery (3) Deductible BI (3) G Clause (3) Hukum Dagang (3) Hukum Ketenagakerjaan (3) Hukum Perdata (3) ICC 1982 (3) ICC 2009 (3) Iklan (3) Incoterms (3) Kendaraan (3) Maipark (3) Money Insurance (3) Online Marketing (3) Pesawat (3) Sinar Mas (3) hukum (3) periode pertanggungan (3) struktur polis (3) 107 (2) Asuransi Jiwa Jaminan (2) Asuransi Politik (2) Asuransi Sosial (2) Bank Garansi (2) Beli Asuransi (2) Bukopin (2) Bumi Asih (2) Clause Motor Car (2) Custom Bond (2) Fronting Company (2) GDEAI (2) Galeri Foto (2) H Clause (2) Kebijakan (2) Khusus (2) Kurikulum Asuransi (2) Market (2) Opini (2) PMA (2) PSAK 62 (2) Personal Accident (2) Perusahaan atau Korporasi (2) Professional Indemnity (2) Prudential (2) RSKKNI (2) Rangkuman (2) Reportase (2) SPPA (2) Sertifikasi Agen (2) Stockthroughput (2) Undang-undang (2) asuransi tradisional (2) aturan pemerintah (2) danaACA (2) dokumen pendukung (2) ganti rugi (2) harga pertanggungan (2) ifrs (2) indemnity (2) ketentuan (2) kontribusi (2) liability (2) marketing (2) perkecualian (2) product liability (2) public liability (2) rating (2) risiko (2) sharing (2) subrogasi (2) 105 (1) 202 (1) 302 (1) 304 (1) 401 (1) AXA Mandiri (1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (1) Asuransi Kredit (1) Asuransi Migas (1) Asuransi Parkir (1) Asuransi Petani (1) Asuransi Peternak (1) Asuransi Tanaman (1) BRI (1) BTN (1) Badai Sandy (1) Banker Clause (1) Boiler and Pressure Vessel (1) Bosowa (1) Bringin Life (1) Bumiputera Life (1) Burglary Insurance (1) CPM / HE (1) Cakrawala Proteksi (1) Cigna (1) Ciputra (1) Commonwealth Life (1) Contractor Allrisk (1) Daftar Perusahaan Asuransi (1) DanaGempa (1) DanaRumah (1) Dayin Mitra (1) Directors’ And Officers’ Liability (1) Ekspor (1) Electronic Equipments (1) Emiten (1) Energi (1) Engineering Fee (1) Erection Allrisk (1) FPG Indonesia (1) File Insurance (1) Financial Planning (1) Forum Diskusi (1) Forwarder Liability (1) Great Eastern (1) Haji (1) Hanwha Life (1) Himalaya (1) IPO (1) ISO 31000 (1) InHealth (1) Insurance Act 2015 (1) Izin Usaha (1) J Clause (1) JKN (1) Jokowi (1) KOMPASANGGI (1) KOMPASMEGA (1) Kanker (1) Kebakaran (1) Kelas Konstruksi (1) Kilasdunia (1) Kinerja Asuransi Umum (1) Korupsi (1) Kupasi (1) LPS (1) Lloyd's (1) Loss Limit (1) Manulife (1) Medi Plus (1) Media Asuransi (1) Mitra Maparya (1) Multifinance (1) NMA (1) Obamacare (1) P&I (1) P&I Insurance (1) PAYDI (1) PSKI (1) Pailit (1) Pasar Senen (1) Penerbangan (1) Pertambangan (1) Perubahan Iklim (1) Powerpoint (1) Professional Liability (1) Pungutan OJK (1) RBC (1) Ritel (1) SDM (1) Sadar Asuransi (1) Sengketa Asuransi (1) Slide (1) Soal (1) Survey Report (1) asuransi properti (1) asuransi warisan (1) aturan (1) bapepam-lk (1) biaya (1) biro klasifikasi (1) business (1) definisi (1) fungsi asuransi (1) insurable interest (1) jaminan (1) judi (1) kapal (1) komposisi (1) kurs valas (1) kyc (1) laik (1) manfaat asuransi (1) modifikasi (1) ownrisk (1) pemasaran (1) penutupan asuransi (1) perlengkapan tambahan (1) polis (1) product guarantee (1) proximate cause (1) sistem pemasaran asuransi (1) strategi pemasaran (1)

Blog Archive

Recent Posts