Kasus Jiwasraya terkuak, pengawasan terhadap eksekutif asuransi dinilai minim

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terangkatnya masalah likuiditas PT Asuransi Jiwasraya ke permukaan turut mengundang pertanyaan terkait fungsi pengawasan yang dimiliki Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Maklum saja, lagi-lagi nasabah yang harus kembali dirugikan.

Pengamat asuransi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Risiko & Asuransi (STIMRA) Jakarta, Hotbonar Sinaga menyebut, sejak kelahiran wasit industri keuangan ini pada 2013 lalu, OJK memang sudah punya instrumen pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan (LJK) termasuk asuransi, baik itu secara langsung, maupun tidak langsung.

Pengawasan secara langsung dilakukan lewat pemeriksaaan rutin atau bila ada laporan dari pihak terkait. Sementara pengawasan tidak langsung, dilakukan melalui sistem pelaporan semisal assesment manajemen risiko dan instrumen compliance lainnya.

Namun rupanya itu tak cukup. Menurut Hotbonar, pengawasan terhadap manajemen LJK seperti jajaran direksi masih minim. Biasanya dilakukan sebatas mekanisme uji kepatutan dan kelayakan. "Yang sulit dicari tahu adalah integritas para eksekutif ini," kata dia, Minggu (14/10).

Dia bilang regulator harus mewajibkan perusahaan LJK untuk mengimplementasikan whistle blowing system yang menyediakan mekanisme palaporan bila ada penyimpangan yang dilakukan oleh orang dalam. Sanksinya pun harus tegas dan membuat efek jera, semisal dengan penerbitan list of improper executives, yang diterbitkan secara berkala, misalnya tiap kuartal.

Hal ini disebutnya amat penting karena fraud yang dapat menyebabkan LJK bermasalah lazimnya dilakukan oleh direksi yang memikul tanggung jawab bila ada kerugian. Pasalnya, harus dibedakan antara masalah karena faktor internal dan eksternal.

Masalah karena kecurangan manajemen tentunya beda dengan masalah yang disebabkan kondisi ekonomi semisal kondisi pasar modal atau bencana alam.

Hotbonar menambahkan, harus diakui bahwa OJK juga kekurangan tenaga pengawas. Makanya hal ini pun harus dipecahkan misalnya dengan merekrut tenaga-tenaga baru yang berintegritas seperti dari kalangan praktisi.

Sumber Kontan.co.id
Share:

AAJI Edukasi Masyarakat Sadar Asuransi

TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
TRIBUNJOGJA.COM - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) DIY menilai kesadaran masyarakat untuk ikut asuransi masih sangat rendah.

Hal tersebut terlihat dari penetrasi asuransi jiwa yang masih kecil dibanding populasi masyarakat Indonesia.

Ketua AAJI DIY, Dwi Yanto, mengatakan rendahnya pemahaman masyarakat akan pentingnya berasuransi ini merupakan tantangan utama dari industri asuransi jiwa.

"Di DIY berdasar catatan kami baru sekira 2 persen yang melek asuransi atau mereka yang betul-betul paham pentingnya asuransi," kata Dwi Yanto pada media gathering Insurance Day di Silol Cafe, Selasa (16/10/2018).

Lebih lanjut, menurutnya dari 2 persen pemegang asuransi di DIY yang terbanyak ialah asuransi pendidikan serta jaminan hari tua.

"Mengenai kurangnya edukasi  tentang asuransi kami akui memang terjadi. Sekarang misalnya, kami tentu cukup kesulitan mengedukasi tentang asuransi terhadap warga di pelosok Gunungkidul atau Kulonprogo sekalipun," ujarnya.

Bertepat Hari Asuransi yang akan jatuh 18 Oktober 2018 mendatang, AAJI DIY mengadakan rangkaian kegiatan, di antaranya literasi keuangan, fun walk, dan insurance idol.

Adapun literasi keuangan bertajuk 'Insurance Goes to Campus' akan diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (18/10/2018).

Sekira 200 mahasiwa akan berikan materi mengenai peluang bisnis menjadi perencana keuangan dari pemateri Kepala OJK Yogyakarta, Kepala Cabang AAJI Yogyakarta dan Wakil Ketua AAUI Yogyakarta.

"Kami yakin merupakan aset bangsa dimana yang akan berperan bagi kelanjutan bangsa ini ke depannya,"kata Dwi Yanto.

Tak hanya digelar di UMY, namun kegiatan literasi keuangan ini juga diselenggarakan serentak di 13 kota besar di Indonesia, di antaranya Nanggroe Aceh Darussalam, Medan, Palembang, Semarang, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Bali, Makassar, Gorontalo,  dan Jayapura.

"Literasi keuangan ini akan dilakukan pemecahan rekor MURI juga. Jadi nanti di 13 kota itu dengan total 5.000 mahasiswa membaca secara bersama di waktu yang sama dengan buku judul yang sama tentang asuransi,” pungkasnya. (tribunjogja)

Sumber: Tribunjogja.com
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: has
Share:

Optimisme Ekonomi Digital Indonesia

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) bersama Pendiri Alibaba Jack Ma (kanan) menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10). Forum diskusi tersebut membahas Disrupting Development: How digital platforms and innovation are changing the future of developing nations.

"Anjing menggonggong kafilah berlalu," begitulah pepatah yang pantas disematkan dalam gelaran bergengsi IMF-World Bank Group annual meeting 2018 di Bali. Gelaran itu baru saja usai. Indonesia terbilang sukses menggelarnya.

Dari berbagai segi boleh dibilang gelaran ini sama apiknya dengan pelaksanaan Asian Games 2018. Jumlah peserta yang fantastis, nilai promo bagi Indonesia, keapikan dalam penyelenggaraan, kesempatan bagi pejabat-pejabat tinggi kita duduk sama tinggi dengan ekonom kelas dunia, serta capaian-capaian penting lainnya.

Tak heran kalau banyak pujian berdatangan dari pemimpin negara-negara dan juga lembaga keuangan dunia. Ini jelas semakin meningkatkan rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang diprediksi banyak kalangan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat pada tahun 2050.
Namun seperti pepatah tadi, selalu ada yang tidak puas. Tetapi sebagai bangsa saya memilih sikap objektif: menerima dengan bangga.

Pertemuan ini sendiri mendatangkan investasi dalam bidang infrastruktur yang nilainya mencapai 202 triliun rupiah. Tak hanya dana, komitmen kerjasama lainnya juga dicapai melalui pertemuan itu. Salah satunya kesepakatan dalam pengembangan SDM (sumber daya manusia) Indonesia dalam hal teknologi.

Kesepakatan ini dicapai bersama salah satu raksasa teknologi dunia asal Tiongkok, Alibaba. Jack Ma melalui Alibaba membantu pengembangan SDM Indonesia dengan program 1.000 pengusaha bidang digital. Bahkan Jack Ma langsung bertindak dengan melibatkan lima brand Indonesia diperdagangkan dalam ajang Single’s Day di China.

Ekonomi Digital
Baiklah, kita fokus pada dampak pertemuan itu terhadap perkembangan ekonomi digital Indonesia. Mengapa? Karena konsumsi dan kehidupan tengah shifting kedalam dunia cyber, ekonomi semakin kolaboratif, dengan munculnya banyak inisiatif yang didasari sharing economy.

Kaum muda - generasi millenial, bukan generasi kolonial, adalah motor penggerak utama dalam transformasi ekonomi menuju ekonomi digital. Di OJK saja, kini kita mulai biasa menyaksikan anak-anak muda berkaos oblong atau bersepatu kets mengurus perijinan sektor keuangan. Mereka itulah para juragan fintech yang merubah peta kompetisi perbankan dunia.

Di rumah, anak-anak muda itu tetaplah anak-anak, tetapi dalam dunia baru itu mereka adalah idola kaum muda. Dan kegiatan mereka itu tak lepas dari mata para menteri keuangan dunia. Itu sebabnya muncul bahasan Bali Fintech Agenda, dengan dorongan untuk merelaksasi aturan dan mendorong pelibatan fintech dalam inklusi keuangan.

Potensi Digital Indonesia
Pada tahun 2016, menurut laporan Huawei dan Oxford Economics yang berjudul Digital Spillover, ekonomi digital dunia mencapai 11,5 triliun dollar. Ini sama dengan 15,5 persen dari GDP dunia. Lalu kurang dari satu dekade kemudian angkanya meningkat luar biasa menjadi 25 persen GDP dunia. Bagaimana dengan potensi digital Indonesia?

Dalam laporannya belum lama ini, McKinsey menyebutkan bahwa ekonomi digital Indonesia sekarang hampir sama dengan China pada tahun 2010, berdasarkan indikator-indikator seperti penetrasi e-retail, GDP per kapita, penetrasi internet, pengeluaran ritel, dan urbanisasi.

Pada tahun 2017, nilai perdagangan online Indonesia mencapai 8 miliar dollar. Nilai ini meningkat menjadi 55 sampai 65 miliar dollar pada tahun 2022. Sedangkan penetrasi pengguna internet meningkat dari 74 persen penduduk menggunakan internet saat ini menjadi 83 persen pengguna di tahun 2022.

Benarlah Jack Ma saat berbicara di IMF-World Bank Group annual meeting beberapa hari yang lalu, "tiga puluh tahun yang lalu, jika tidak ada aliran listrik, maka negara tersebut tidak memiliki harapan. Sekarang, acuannya bukan lagi aliran listrik, melainkan koneksi internet."

Akses internet yang buruk sama artinya dengan hilangnya kesempatan anak-anak muda untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan.

Perlu dicatat, di Asia Tenggara saat ini sudah ada 8 Unicorn dan setengahnya berasal dari Indonesia. Mereka antara lain: Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Begitupun dengan nilai pendanaan yang didapat Indonesia dari venture capital selama tiga tahun ini mencapai 38 persen dari total pendanaan di Asia Tenggara.

Dampak Perdagangan Online
Dengan pencapaian saat ini saja, dampak yang dihasilkan luar biasa. Mengacu pada laporan McKinsey (2018), perdagangan online memiliki dampak di empat area. Pertama, financial benefits. Saya kira ini jelas. Indonesia adalah pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara. Nilainya saat ini kurang lebih 2,5 milyar dollar dan akan menjadi 20 milyar dollar di tahun 2022.
Nilainya meningkat delapan kali dalam kurun lima tahun. Untuk diketahui, 30 persen dari penjualan e-commerce adalah konsumsi baru yang tidak pernah terjadi di perdagangan offline.
Kedua, job creation. Diperkirakan akan ada 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022 akibat dari ekonomi digital ini yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Agaknya ini juga yang membuat Jack Ma membuat strategi agar Alibaba fokus pada UMKM di China. Bahkan Jack Ma mengatakan “helping small business to make money is the key”.
Lalu, buyer benefits. Ini bisa dilihat dari harga-harga di marketplace e-commerce yang biasanya lebih murah dari offline. Dengan berbelanja online, konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11 sampai 25 persen dibandingkan berbelanja di ritel tradisional.

Terakhir, social equality. Mungkin ini dampak yang kurang kita sadari. Ekonomi digital telah berdampak terhadap kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan dan masalah sosial lainnya. Faktanya, wanita menikmati 35 persen “kue” penjualan online dibandingkan dengan 15 persen pada ritel tradisional. Ini artinya kesetaraan gender memungkinkan dicapai melalui ekonomi digital.

Begitupun dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang semakin dinikmati masyarakat. Dengan adanya ekonomi digital, bisnis kecil yang awalnya hanya menjual produknya di kota asalnya saat ini bisa menjual produknya ke luar kota bahkan luar negeri.

Membangun Ekosistem Digital

Singkat kata, pertemuan IMF-World Bank Group ini sangat spesial bagi Indonesia. Lucu kalau masih ada yang mengaitkan dengan utang, sebab agenda yang dibahas bukan soal pinjaman sungguhpun dilaksanakan oleh lembaga pemberi pinjaman. Kita berpikir sehat saja. Ambil manfaatnya untuk masa depan perekonomian kita. Bukankah dunia sedang dipenuhi banyak kerisauan dan mentalitas kalah?

Jadi, kita benahi saja PR-PR yang belum dikerjakan. Tetap fokus, bangun masa depan. Ekosistem digital harus terus dibangun, karena ia memainkan peran untuk membentuk interkoneksi yang membuat segalanya menjadi terhubung. Ini artinya pembangunan infrastruktur logistik harus terus diupayakan.

Begitupun dengan sistem pembayaran digital Indonesia yang masih tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Disini peran fintech yang melayani cashless payment sangat diharapkan untuk mendorong shifting sistem pembayaran.

Penulis: Rhenald Kasali
Editor: Bambang Priyo Jatmiko
Copyright Kompas.com
Sumber: MSN
Share:

Real-Time Risk Management dan Next-Generation Insurance


Oleh: John Drzik
President, Global Risk and Digital at Marsh

Tren saat ini memungkinkan bisnis dan industri asuransi untuk bergerak ke arah pendekatan baru yang revolusioner: Real-Time Risk Management.

Pengelolaan risiko secara real time menawarkan kemungkinan untuk mengurangi risiko sekaligus mentransfernya secara lebih efektif. Ini berarti bahwa bisnis dapat memiliki pandangan terkini tentang eksposur risiko yang berubah-ubah dan mengambil tindakan untuk memitigasi risiko tersebut — dan bahwa industri asuransi tidak perlu lagi hanya bergantung pada data historis untuk menentukan harga risiko.

Apa yang membuat Real-Time Risk Management menjadi mungkin? Tiga perkembangan di bawah ini secara bersamaan mulai membentuk terjadinya bentangan risiko:

Streaming data secara real-time. Mulai dari telematika dan citra satelit hingga teknologi yang dapat dipakai hingga sensor properti, semakin banyak teknologi yang muncul menghasilkan aliran data baru yang memberikan sinyal dinamis dengan konten risiko. Ponsel juga merupakan sumber sinyal risiko yang terus berkembang, terutama karena semakin banyak ponsel yang berjalan di jaringan nirkabel berkecepatan tinggi. Pada 2025, dunia akan memiliki 1,2 miliar koneksi 5G, dan 4G akan mencapai 5 miliar sambungan, menurut Asosiasi GSM, asosiasi perdagangan global operator telekomunikasi seluler. Ini berarti mayoritas populasi global akan memiliki akses ke jaringan nirkabel canggih yang dapat menggerakkan streaming data secara real-time.

Seni analisis yang didorong oleh kecerdasan buatan
. Kemajuan dalam hal Artificial Intelligence / AI / kecerdasan buatan dan mesin pembelajaran sekarang memungkinkan pemrosesan aliran data berskala besar dengan kecepatan jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Analisis bertenaga AI dapat menyaring rangkaian sinyal data real-time yang meluas menjadi pandangan dinamis risiko yang dapat digunakan untuk memicu tindakan mitigasi atau pertimbangan alternatif dalam hal transfer risiko.

Produk asuransi baru. Polis baru yang menyesuaikan harga atau coverage terkait dengan perubahan sinyal risiko menciptakan insentif untuk mengelola risiko secara lebih aktif. Area produk yang paling maju adalah asuransi mobil pribadi, di mana beberapa polis saat ini menyediakan fitur premium dalam kaitannya dengan informasi berbasis telematika tentang perilaku mengemudi. Meskipun masih embrio, perusahaan asuransi yang inovatif mengeksplorasi potensi untuk menciptakan polis generasi mendatang di area properti dan korban lainnya yang menggunakan aliran data baru untuk menyesuaikan harga atau coverage secara dinamis dan juga menggunakan aliran waktu nyata untuk memproses klaim secara lebih cepat.

Memungkinkan Assesment Risiko secara Lebih Baik
Kemajuan yang akan tampak seperti fiksi ilmiah hampir satu dekade yang lalu adalah kenyataan saat ini. Pertimbangkan hanya beberapa contoh teknologi baru yang berkontribusi terhadap penilaian risiko secara real-time atau setidaknya mendekati real-time.

Telematika. Dari mobil penumpang ke truk ke kapal kargo, telematika dikerahkan untuk meningkatkan keselamatan transportasi dengan secara aktif mengidentifikasi perilaku dan kondisi mengemudi yang berisiko. Tingkat kecelakaan dapat dikurangi lebih lanjut jika produk asuransi memberikan insentif harga bagi individu dan bisnis untuk menggunakan umpan telematika untuk mengelola risiko mereka secara lebih aktif. Polis asuransi komersial dapat dikembangkan untuk mengganti asuransi kendaraan bermotor atau marine cargo secara real time berdasarkan perilaku operator, jalan atau laut di mana muatan tersebut melakukan perjalanan, nilai muatan, kondisi cuaca, dan variabel dinamis lainnya. Kendaraan yang sepenuhnya otonom memiliki potensi untuk menciptakan penurunan langkah-perubahan dalam risiko — dan penggunaan fitur otonom dapat didorong melalui kebijakan asuransi yang bergeser ke penentuan harga berdasarkan sinyal yang ditangkap secara real-time yang menandakan apakah kemampuan otonom aktif atau tidak aktif.

The Internet of Things. Proyeksi saat ini adalah 25 hingga 30 miliar perangkat yang terhubung akan digunakan pada 2020 (naik dari lebih dari 7 miliar hari ini). Dari sensor tertanam yang memungkinkan bangunan "pintar" atau rumah "pintar", hingga perangkat yang dapat dikenakan yang digunakan di situs konstruksi atau operasi manufaktur, perangkat yang terhubung menghasilkan lansiran yang dapat memperingatkan pengguna terhadap kondisi tidak aman dan memicu mereka untuk mengubah perilakunya, melakukan pemeliharaan, atau mengambil tindakan lain yang membantu mencegah kecelakaan. Sampai tahun 1986, burung kenari mengingatkan penambang batu bara terhadap keberadaan asap mematikan. Sensor lingkungan melakukan tugas itu hari ini secara real time, meningkatkan keselamatan di atas dan di bawah tanah. Perangkat yang terhubung sering dipasang untuk alasan lain selain manajemen risiko — misalnya, sensor properti dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi energi, dan perangkat yang dapat dikenakan dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Namun, sensor yang sama sering membawa konten risiko yang dapat digunakan untuk meningkatkan mitigasi atau transfer risiko.

Teknologi cybersecurity. Risiko cyber terus meningkat, dan seperangkat teknologi yang diperluas sedang diterapkan dalam bisnis untuk membantu profesional keamanan informasi mereka mencegah atau merespons secara lebih efektif terhadap serangan cyber. Banyak dari teknologi baru ini menghasilkan aliran data yang juga dapat diproses dengan analisis canggih menjadi ke dalam suatu pandangan ke depan mengenai eksposur cyber. Profesional risiko kemudian dapat menggunakan pandangan-pandangan ini untuk mengukur potensi kerugian skenario lebih aktif dan mempertimbangkan ekonomi transfer risiko dengan ketepatan yang lebih tinggi.

Visual intelligence tools / Alat kecerdasan visual. Satelit, pesawat terbang dan drone mampu mengerahkan kamera dan sensor resolusi tinggi yang menyediakan aliran data real-time tambahan. Teknik pembelajaran mesin yang lebih kuat sekarang dapat memproses gambar-gambar ini menjadi informasi risiko real-time yang relevan. Misalnya, kombinasi gambar properti dan umpan cuaca berfrekuensi tinggi dapat memberikan tampilan kerusakan properti yang dapat digunakan untuk memproses klaim secara cepat dan akurat. Teknologi alat kecerdasan visual yang sama, dikombinasikan dengan data properti IoT dan prakiraan cuaca berbasis AI, dapat memberikan pandangan ke depan tentang risiko properti untuk rumah atau bangunan yang dapat digunakan dalam penetapan harga asuransi.

Langkah ke depan
Teknologi manajemen risiko real-time tidak akan menghilangkan risiko, tetapi dapat semakin memberikan pelaku bisnis dan individu dengan kecerdasan yang dapat ditindaklanjuti untuk mengelola dan mengurangi risiko mereka secara signifikan, dalam beberapa kasus. Munculnya aliran data baru dan analitik yang kuat juga membuka pintu untuk inovasi dalam risiko pembiayaan, baik yang mengambil bentuk coverage inovatif dari penyedia asuransi, suatu inovasi yang diperluas dan yang lebih kreatif, atau adaptasi produk baru dari pasar modal alternatif.

Asuransi kemungkinan akan tetap mengutamakan kendaraan sebagai sasaran utama untuk inovasi risiko ini. Secara tradisional, premi asuransi ditentukan berdasarkan data historis. Penjamin dan aktuaris mengkompilasi dan menggunakan kumpulan data masa lalu untuk mencari pola kerugian dan membuat proyeksi tentang hasil di masa mendatang. Sumber data yang muncul sekarang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pandangan yang terus diperbarui tentang risiko yang mendasarinya. Penyedia asuransi dapat menggunakan data real-time ini dan mengembangkan data ilmu pengetahuan untuk membuat proyeksi yang lebih dinamis tentang hasil di masa mendatang dan mengembangkan premi berbasis risiko yang dihitung berdasarkan pendekatan baru.

Hingga saat ini, risiko yang secara tradisional ditanggung oleh asuransi tidak dapat dikelola secara dinamis. Namun, prospek manajemen risiko secara real-time sekarang sudah tampak jelas di cakrawala. Dengan memanfaatkan aliran data real-time dan analitik yang didorong oleh kecerdasan buatan, bisnis dan industri asuransi dapat secara dramatis mengubah cara kita mengelola risiko dan memikirkan asuransi. Kami hampir tidak menyentuh permukaan, tetapi manfaat potensial untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko secara waktu nyata sudah mulai terlihat.


John Drzik
Presiden, Risiko Global, dan Digital di Marsh

John Drzik adalah presiden Marsh Global Risk and Digital. Mr Drzik memiliki tanggung jawab global untuk kegiatan perusahaan dalam konsultasi, solusi kaptif, data, analitik dan teknologi digital, dan untuk bisnis Marsh yang memberikan solusi risiko dan asuransi melalui agen, afinitas dan saluran digital untuk bisnis komersial kecil dan individu. Dia juga menjadi ketua Pusat Risiko Global untuk Marsh & McLennan Companies.
Sebelum menjalani peran ini, Mr. Drzik adalah CEO Oliver Wyman yang bertanggung jawab untuk divisi konsultasi manajemen Marsh & McLennan Companies. Dia bergabung Oliver Wyman pada tahun 1984, diangkat sebagai ketua pada tahun 2000, dan memainkan peran kunci dalam membangun posisi kepemimpinan perusahaan dalam strategi layanan keuangan dan konsultasi manajemen risiko.
Penulis berbagai artikel tentang strategi, manajemen risiko dan asuransi, Drzik adalah pembicara yang sering diundang di berbagai konferensi dan telah diundang untuk hadir di industri dan acara regulator yang disponsori oleh World Economic Forum, Harvard Business School, Geneva Association, dan Financial Times.

Diterjemahkan dari artikel yang diambil dari Brinknews
Share:

Real-Time Risk Management and Next-Generation Insurance


By: John Drzik
President, Global Risk and Digital at Marsh

A confluence of trends is enabling businesses and the insurance industry to move toward a revolutionary new approach: real-time risk management.

Managing risk in real time offers the potential to both reduce risk and transfer it more effectively. It means businesses can have an up-to-the-minute view of their changing risk exposures—and take actions to mitigate them—and that the insurance industry no longer needs to rely only on historical data to price risk.

What makes real-time risk management possible? Three concurrent developments are starting to reshape the risk landscape:

New real-time data streams. From telematics to satellite imagery to wearable technology to property sensors, there are a growing number of emerging technologies generating new data streams that provide dynamic signals with risk content. Mobile phones are also a growing source of risk signals, especially as more and more of them are run on high-speed wireless networks. By 2025, the world will have 1.2 billion 5G connections, and 4G will reach 5 billion connections, according to the GSM Association, a global trade association of mobile telecommunication operators. This means the majority of the global population will have access to the advanced wireless networks that can power real-time data streaming.

Analytics driven by artificial intelligence. Advances in AI and machine learning now enable the processing of large-scale data streams at a speed significantly faster than previously possible. AI-powered analytics can distill the expanding set of real-time data signals into a dynamic view of risk that can be used to trigger mitigating actions or consideration of risk transfer alternatives.

New insurance products. New policies that adjust price or coverage in relation to changing risk signals are creating incentives to manage risk more actively. The most developed area is personal auto insurance, where some policies now provide premium credits in relation to telematics-based information on driving behavior. While still embryonic, innovative insurers are exploring the potential to create next-generation policies in other property and casualty areas that use new data streams to adjust price or coverage dynamically and that also use real-time streams to process claims more rapidly.

Enabling Better Risk Assessment
Advances that would have seemed like science fiction barely a decade ago are reality today. Consider just a few examples of emerging technology that are contributing to real-time or near real-time assessment of risk.

Telematics. From passenger cars to trucks to cargo ships, telematics are being deployed to improve transportation safety by actively identifying risky driving behaviors and conditions. Accident rates could be reduced further if insurance products provided price incentives for individuals and businesses to use the telematics feeds to manage their risk more actively. Commercial insurance policies can be developed to reprice motor or marine cargo insurance in real time based on the behavior of the operator, the roads or seas on which the cargo is traveling, the value of the cargo, weather conditions, and other dynamic variables. Fully autonomous vehicles have the potential to create a step-change decrease in risk—and the use of the autonomous features can be encouraged through an insurance policy that shifts in price based on a real-time feed signaling whether the autonomous capabilities are on or off.

The Internet of Things. Current projections are that 25 to 30 billion connected devices will be deployed by 2020 (up from more than 7 billion today). From embedded sensors that enable “smart” buildings or “smart” homes, to wearables used on construction sites or manufacturing operations, connected devices generate alerts that can warn users of unsafe conditions and trigger them to change their behavior, perform maintenance or take other actions that help to prevent accidents. Until 1986, canaries alerted coal miners to the presence of deadly fumes. Environmental sensors perform that task today in real time, improving safety above and below ground. Connected devices are often installed for reasons other than risk management—for example, property sensors might be implemented to improve energy efficiency, and wearables might be deployed to improve productivity. However, the same sensors often carry risk content that can be used to improve risk mitigation or transfer.

Cybersecurity technology. Cyber risk continues to escalate, and an expanded set of technologies is being deployed within businesses to help their information security professionals prevent or respond more effectively to cyberattacks. Many of these new technologies generate data streams that can also be processed with advanced analytics into a moving view of cyber exposure. Risk professionals can then use these views to quantify potential loss scenarios more actively and consider the economics of risk transfer with greater precision.

Visual intelligence tools. Satellites, aircraft and drones are capable of deploying high-resolution cameras and sensors that provide additional real-time data streams. More powerful machine learning techniques can now process these images into relevant real-time risk information. For example, the combination of property images and high-frequency weather feeds can provide a rapid and accurate view of property damage, which can be used for high-speed claims processing. The same visual intelligence technology, combined with property IoT data and AI-based weather forecasts, can provide a forward-looking view of property risk for a home or building that can be used in insurance pricing.

The Road Ahead
Real-time risk management technologies will not eliminate risk, but can increasingly provide businesses and individuals with actionable intelligence to manage and reduce their risk—significantly, in some cases. The advent of new data streams and powerful analytics also opens the door to innovation in risk financing, whether that takes the form of innovative coverage from insurance providers, an expanded and creative use of a captive, or tapping new products from alternative capital markets.

Insurance is likely to remain the primary risk transfer vehicle for these risks. Traditionally, insurance premiums are determined based on historical data. Underwriters and actuaries compile and use past data sets to look for loss patterns and make projections about future outcomes. Emerging data sources can now be leveraged to provide a continuously updated view of the underlying risk. Insurance providers can use this real-time data and evolving data science to make more dynamic projections about future outcomes and develop risk-based premiums that are calculated based on the new approach.

To date, risks traditionally covered by insurance could not be managed this dynamically. However, the prospect for real-time risk management is now on the horizon. By harnessing real-time data streams and analytics driven by artificial intelligence, businesses and the insurance industry can dramatically shift how we manage risk and think about insurance. We’ve barely scratched the surface, but the potential benefits for identifying, assessing and managing risk in real time are already coming into view.

John Drzik
President, Global Risk and Digital at Marsh

John Drzik is the president of Marsh Global Risk and Digital. Mr. Drzik has global responsibility for the firm’s activities in consulting, captive solutions, data, analytics and digital technology, and for the Marsh businesses which deliver risk and insurance solutions through agency, affinity and digital channels to small commercial businesses and individuals. He is also the chairman of the Global Risk Center for Marsh & McLennan Companies.
Prior to this role, Mr. Drzik was CEO of Oliver Wyman, where he had responsibility for the management consulting division of Marsh & McLennan Companies. He joined Oliver Wyman in 1984, was named chairman in 2000, and played a key role in establishing the firm’s leadership position in financial services strategy and risk management consulting.
The author of numerous articles on strategy, risk management and insurance, Mr. Drzik is a frequent speaker at conferences and has been invited to present at industry and regulatory events sponsored by the World Economic Forum, Harvard Business School, Geneva Association, and the Financial Times.

Sumber: Brinknews
Share:

OJK Ingatkan Asuransi Aktif Data Pemegang Polis Pasca-Gempa Palu


MAKASSAR, TRIBUN – Untuk merangsang pemulihan ekonomi di ibu kota Sulawesi Tengah, pasca-bencana gempa-tsunami, Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan paket deregulasi bagi nasabah industri keuangan bank dan non-bank.

Untuk industri non-bank, seperti asuransi diminta untuk segera mendata para pemegang polis dan mempermudah proses pencairan klaim pertanggungan.

Sehari menjelang masuknya masa transisi pemilihan pasca-bencana, Dewan Rapat Dewan Komisioner OJK di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018) malam lalu.

Dewan Komusioner menyepakati memberi paket relaksasi kredit dan pembiayaan syariah perbankan, untuk debitur atau proyek di lokasi bencana Kota Palu, Donggala dan Sigi.

"Bagi Perusahaan Perasuransian, OJK mendorong pendataan para tertanggung/pemegang polis asuransi yang mengalami kerugian akibat bencana, kalau perlu jemput bola untuk meringankan beban pemegang polis yang tertimpa musibah,” kata Kepala OJK Regional 6 Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua), Zulmi dalam siaran persnya, yang diterima Tribun, Rabu (10/10/2018).

Sedangkan Bagi kreditur bank dan nasabah pembiayaan akan mendapkan relaksasi berupa penundaan pembayaran.

Perusahaan Pembiayaan diminta melaporkan secara berkala kepada OJK mengenai progres penanganan restrukturisasi debitur yang tertimpa musibah.

Data sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat 13.233 debitur di enam cabang Bank Umum Konvensional yang terdampak bencana alam dengan total baki debet kredit sebesar Rp 1,6 triliun.
Zulmi menuturkan, perlakuan khusus atas kredit atau pembiayaan syariah bank merujuk peraturan OJK (POJK) Nomor 45/POJK.03/2017 tentang Perlakukan Khusus terhadap Kredit atau Pembiayaan Bank Bagi Daerah Tertentu di Indonesia yang Terkena Bencana Alam dalam keputusan Dewan Komisioner.

Zulmi menegaskan, OJK akan terus memantau dan mengevaluasi perkembangan kondisi daerah yang terdampak bencana dan akan mengambil langkah lanjutan yang diperlukan.

Secara terpisah, Kepala Cabang Asuransi Astra Makassar Hilmi Farizman telah mendapat seruan dari OJK. Hingga saat ini, perusahaan masih menunggu data fix.

"Kalau klaim roda empat untuk Garda Oto, sementara laporan yang masuk ada 6 unit mobil. Kalau laporan klaim motor, masih proses cek, belum fix angkanya," kata Hilmi sapaanya.

Hitung Klaim

Sehari menjelang berakhirnya masa tanggap darurat di Palu, Kamis (11/10/2018), pihak asuransi mulai menghitung klaim tanggungan para pemegang polisnya.

“Pihak asuransi, sejak minggu lalu sudah datang meninjau tingkat kerusakan hotel kami, mereka sudah janji untuk bayar klaim polisnya,” kata Peter Gozal, komisaris Hotel Palu Golden, di Jl Raden Saleh No 1, Besusu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10/2018) siang.

Piter yang juga Ketua Indonesia Tionghoa (INTI) Sulsel ini, menyebutkan, pihak asuransi sementara menghitung klaim asuransi tanggungan dari manajemen dan appraisal.
Asurasi itu adalah QBE General Insurance Indonesia.

Peter merasa beruntung, sebab baru dua bulan lalu dia memperpanjang polis dan melanjutkan pembayaran premi asuransi pertanggungan all risk-nya.

Jika proses ini berjalan lancar, proses rekonstruksi dan renovasi hotelnya mulai dikerjakan akhir tahun ini.

“Kita lagi cari konsultan dan kontraktor, semoga empat atau lima bulan kami akan kembali beroperasi,” ujar Peter disela-sela inspeksi tingkat kerusakan hotelnya, Rabu.
Palu Golden adalah hotel bintang lima pertama di Kota Palu.

Beroperasi sejak Juni 1978, hotel di ujung timur Teluk Palu ini, sempat jadi materi liputan CNN, sebagai satu-satunya bangunan tua yang struktur bangunannya tak rubuh setelah digoyang gempa dan diterjang tidal tsunami.

Lokasinya hanya berjarak sekitar 300 meter dari bibir Pantai Talise, venue Festival Nomoni 2018, yang diterjang tsunami pasca-gempa.

“Syukur, sebab kerusakan hanya di basement, plafon dan tembok pagar rubuh, sama kolam yang penuh sampah,” kata Peter yang juga pemilik Hotel Makassar Golden di Pantai Losari ini.
(aly/san)

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul OJK Ingatkan Asuransi Aktif Data Pemegang Polis Pasca-Gempa Palu, http://makassar.tribunnews.com/2018/10/10/ojk-ingatkan-asuransi-aktif-data-pemegang-polis-pasca-gempa-palu?page=2.
Penulis: Hasan Basri
Editor: Thamzil Thahir
Share:

Labels

News (599) Clause (334) aamai (83) Artikel Afrianto (68) LSPP (61) Engineering Clause (60) OJK (59) Soal AAMAI (56) C Clause (52) AAAIK (51) Buku (45) A Clause (42) P Clause (42) S Clause (37) D Clause (35) Banjir (31) R Clause (28) Clause Liability (27) 102 (26) CAR Clause (26) Istilah (26) E Clause (25) Pengetahuan (25) 101 (23) L Clause (23) reasuransi (23) 103 (22) Klausul (22) Praktek Bisnis (22) Soal Jawab (22) pengertian (21) Headline (20) asuransi kebakaran (20) Marine Cargo (19) liability insurance (19) I Clause (18) Clause PAR (17) F Clause (17) M Clause (17) B Clause (16) Clause Property (15) Prinsip Asuransi (14) Risk Management (14) Syariah (14) Asuransi Mikro (13) N Clause (13) 201 (12) Surety Bond (12) cargo (12) klaim (12) pengantar asuransi kerugian komersil (12) Motor Car (11) O Clause (11) asuransi syariah (11) 303 (10) Asuransi kendaraan bermotor (10) Hukum Asuransi (10) KOMPAS001 (10) PA (10) asuransi kecelakaan diri (10) asuransi personal (10) prosedur klaim (10) 104 (9) Jasindo (9) Magang Beasiswa (9) contractor (9) hull (9) BPJS (8) dikecualikan (8) micro insurance (8) BUMN Reasuransi (7) FAQ OJK (7) Merger (7) Peringkat Asuransi (7) Risk Management Calculations (7) erection (7) fidelity (7) kebongkaran (7) pengirimanuang (7) perluasan jaminan (7) Business Interruption (6) Engineering (6) Regulasi (6) dijamin (6) penyimpananuang (6) 106 (5) 108 (5) Bali Rendezvous (5) Case Study (5) Clause Marine (5) IGTC (5) Jiwasraya (5) LEG Clause (5) Marine Hull (5) Maritime Convension (5) objek pertanggungan (5) premi (5) Asuransi Ternak (4) Benefit (4) Broker (4) CGI (4) Contoh (4) Gempa (4) Insurance Day (4) Nelayan (4) Perlindungan Konsumen (4) Produk (4) Sejarah (4) brand (4) investasi (4) jenis (4) jenis jaminan (4) limit pertanggungan (4) Asuransi Perjalanan (3) Asuransi Pertanian (3) BJPS (3) Bencana (3) Chubb (3) Contractor Plant and Machinery (3) Deductible BI (3) G Clause (3) Hukum Dagang (3) Hukum Ketenagakerjaan (3) Hukum Perdata (3) ICC 1982 (3) ICC 2009 (3) Iklan (3) Incoterms (3) Kendaraan (3) Maipark (3) Money Insurance (3) Pesawat (3) Sinar Mas (3) hukum (3) periode pertanggungan (3) struktur polis (3) 107 (2) Asuransi Jiwa Jaminan (2) Asuransi Politik (2) Asuransi Sosial (2) Bank Garansi (2) Beli Asuransi (2) Bukopin (2) Bumi Asih (2) Clause Motor Car (2) Custom Bond (2) Fronting Company (2) GDEAI (2) Galeri Foto (2) H Clause (2) Kebijakan (2) Khusus (2) Kurikulum Asuransi (2) Market (2) Online Marketing (2) Opini (2) PMA (2) PSAK 62 (2) Personal Accident (2) Perusahaan atau Korporasi (2) Professional Indemnity (2) Prudential (2) RSKKNI (2) Rangkuman (2) Reportase (2) SPPA (2) Sertifikasi Agen (2) Stockthroughput (2) Undang-undang (2) asuransi tradisional (2) aturan pemerintah (2) danaACA (2) dokumen pendukung (2) ganti rugi (2) harga pertanggungan (2) ifrs (2) indemnity (2) ketentuan (2) kontribusi (2) liability (2) marketing (2) perkecualian (2) product liability (2) public liability (2) rating (2) risiko (2) sharing (2) subrogasi (2) 105 (1) 202 (1) 302 (1) 304 (1) 401 (1) AXA Mandiri (1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (1) Asuransi Kredit (1) Asuransi Migas (1) Asuransi Parkir (1) Asuransi Petani (1) Asuransi Peternak (1) Asuransi Tanaman (1) BRI (1) BTN (1) Badai Sandy (1) Banker Clause (1) Boiler and Pressure Vessel (1) Bosowa (1) Bringin Life (1) Bumiputera Life (1) Burglary Insurance (1) CPM / HE (1) Cakrawala Proteksi (1) Cigna (1) Ciputra (1) Commonwealth Life (1) Contractor Allrisk (1) Daftar Perusahaan Asuransi (1) DanaGempa (1) DanaRumah (1) Dayin Mitra (1) Directors’ And Officers’ Liability (1) Ekspor (1) Electronic Equipments (1) Emiten (1) Energi (1) Engineering Fee (1) Erection Allrisk (1) FPG Indonesia (1) File Insurance (1) Financial Planning (1) Forum Diskusi (1) Forwarder Liability (1) Great Eastern (1) Haji (1) Hanwha Life (1) Himalaya (1) IPO (1) ISO 31000 (1) InHealth (1) Insurance Act 2015 (1) Izin Usaha (1) J Clause (1) JKN (1) Jokowi (1) KOMPASANGGI (1) KOMPASMEGA (1) Kanker (1) Kebakaran (1) Kelas Konstruksi (1) Kilasdunia (1) Kinerja Asuransi Umum (1) Korupsi (1) Kupasi (1) LPS (1) Lloyd's (1) Loss Limit (1) Manulife (1) Medi Plus (1) Media Asuransi (1) Mitra Maparya (1) Multifinance (1) NMA (1) Obamacare (1) P&I (1) P&I Insurance (1) PAYDI (1) PSKI (1) Pailit (1) Pasar Senen (1) Penerbangan (1) Pertambangan (1) Perubahan Iklim (1) Powerpoint (1) Professional Liability (1) Pungutan OJK (1) RBC (1) Ritel (1) SDM (1) Sadar Asuransi (1) Sengketa Asuransi (1) Slide (1) Soal (1) Survey Report (1) asuransi properti (1) asuransi warisan (1) aturan (1) bapepam-lk (1) biaya (1) biro klasifikasi (1) business (1) definisi (1) fungsi asuransi (1) insurable interest (1) jaminan (1) judi (1) kapal (1) komposisi (1) kurs valas (1) kyc (1) laik (1) manfaat asuransi (1) modifikasi (1) ownrisk (1) pemasaran (1) penutupan asuransi (1) perlengkapan tambahan (1) polis (1) product guarantee (1) proximate cause (1) sistem pemasaran asuransi (1) strategi pemasaran (1)

Blog Archive

Recent Posts